Pertama kali aku membuka mata, terlihat matahari dari balik jendela seperti nyala korek api. Menyengat. Uh!. Pukul 06.15! Aku kesiangan. Beberapa detik aku menyadarkan diriku sendiri, bahwa aku sedang tidak berada di sebuah tempat yang biasanya. Yah! Aku masih di NTB! Jauh... jauh sekali dari rumah! Tapi, mengapa alarm tak berdering seperti biasanya? Mana Hpku? Pandanganku berputar ke sekeliling kamar, dan pikiranku banyak mencari-cari. Yang kudapati, hanya ranjang Abang yang sudah kosong. Kami tidur dengan ranjang terpisah, seukuran tubuh.
Pandanganku berhenti pada segelas minuman di atas meja kecil. Aku tersenyum sendiri memandangi asap yang mengepul halus di atas gelas, sebab aku tahu siapa yang membuatkannya untukku.
Ponselku berdering. Aku harus menemukan hpku! Pikirku. Tanganku meraba ke arah sumber suara ringtone dan ke segala sudut ranjang. Yap, ini dia. Hpku terjepit di antara dinding penyanggah ranjang dan kasur.
“40 menit lagi, kita harus sampai di rumah Tuan Guru!” kata Benyo Asisten Trainner (asisten kami), dengan nada tegas.
“Siap!” Jawabku pun singkat.
Di rumah Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hakim, bapak TGH shafwan Hakim, yang oleh masyarakat setempat disebut “Tuan Guru”, aku melihat semua ornamen di beranda hingga ruang tamu, berwarna hijau apel yang segar. Tirai jendela, rak-rak buku yang besar. lampu gantung, permadani oriental beraksen hijau yang ditata terampil, serta di rancang untuk kenyamanan.
Kami berlima, duduk bersila membentuk huruf “U”, menghadap Tuan Guru yang berwajah ramah. Di tengah pembicaran Tuan Guru yang menerangkan profil pondok yang ia pimpin, aku berulang kali membalas senyuman Ustadza Lubna dan suaminya yang secara berganti keluar masuk mengantarkan makanan sarapan pagi, tepat di hadapan kami.
Aku merasa, Tuan Guru adalah manusia yang menyederhanakan diri secara batin dari semua kelekatannya pada dunia, pada orang-orang, dan pada materi, agar ia lebih berharga di hadapan Tuhan. Sambil menyesuaikan seleraku dengan makanan khas Mataram, aku menyimak dengan baik setiap kalimatnya yang merupakan proyeksi dari impian-impiannya, pemikirannya, dan cita-citanya terhadap hidup, serta bagi pondoknya di masa mendatang. Mendengar ceritanya yang panjang merupakan bagian awal dari assesmentku di pondok ini , dan di NTB ini.
Pada tahun 1948, seorang ulama GH. Abdul karim (ayahanda dari TGH Shafwan Hakim) mendirikan pondok pesantren Nurul hakim, di kecamatan Kediri: Pada tahun 1740, Kediri adalah kerajaan kecil di Lombok yang di dominasi oleh kerajaan Karang Asem – Bali.
Saat itu, area pondok hanya seluas 4 are (400 meter), dengan jumlah santri 15 orang. Mushollah yang dimiliki pondok hanya 8 x 8 m. Pemberian pengajaran diberikan secara langsung melalui pangajian keliling yang intensif. Sekarang, di tahun 2008, di bahwa pimpinan Tuan Guru, area pondok berkembang menjadi 4,5 Ha dan telah memiliki 4000 santri (3000 santri menetap di pondok, dan 1000 santri hanya datang pada saat sekolah), yang terdiri dari TK – Mahasiswa.
Ada 4 misi yang di terapkan Tuan Guru dalam mengembangkan pondoknya yaitu: Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan dan Ekonomi. Program lingkungan hidup di awali di lingkungan pondok pesantren, 3 tahun yang lalu. Ia membudayakan pembibitan pohon jati dan aneka bunga yang berjumlah 1000 bunga. Sedangkan pengembangan satwa lokal – rusa – di area pondok, ia lebih banyak melibatkan instansi pemerintahan ataupun perorangan.
Tuan Guru juga menceritakan penduduk asli Lombok adalah suku Sasak; Mereka umumnya beragam Islam. Mata pencaharian utama ialah pertanian. Dan di dalam sejarah, Lombok mempunyai hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, baik di jaman majapahit (Hindu) maupun jaman Demak (Islam). Setelah hubungan Lombok – Jawa luntur, berganti kerajaan Bali yang berhubungan erat dan mempengaruhi. Maka didirikan kota-kota seperti Mataram, Karang asem, Pegasangan dan Pugutan, yang masing-masing merupakan kerajaan kecil dan sering berselisih. Pada perang Mataram – karangasem (1838) berakhir dengan kemenangan Mataram yang berhasil menguasai seluruh pulau dan menjadi kerajaan Lombok.
Pada masa penjajahan Belanda dengan kekuatan senjata dan politik adu dombanya yang terkenal. Akhirnya dapat menundukkan raja dan menghapuskan kerajaan. Lombok menjadi jajahan Belanda seperti daerah-daerah Indonesia lainnya, hingga akhirnya berkumandangnya Proklamsi Kemerdekaan Indonesia 17 agustus 1945.
Perjuangan Lombok dalam menentang kembalinya penjajahan Belanda tidak kalah hebat dengan tempat-tempat lain. “Taman bahagia” adalah makam bagi pemimpin-pemimpin pejuang kala itu: Sayid Saleh, Haji M. Faisal dan Abdullah yang gugur dalam peristiwa penyerbuan tangsi militer Belanda di Selong bulan Juni 1946. Dan sejak tahun 1958, Lombok dan Sumbawa menjadi Provinsi Nusa tenggara Barat dengan ibukota Mataram.
Pada saaat Tuan Guru terus berbicara – tanpa ingin memberi jeda pada setiap kalimat -, aku justru melihat cahaya berpendar-pendar di wajahnya. Ia sangat bersemangat. Dan ketika ia berhenti, memberi kesempatan kepada Hassan El More untuk berbicara, tiba-tiba aku merasa lega, sekaligus merasakan bahwa, disini, pikiranku tidak dapat bekerja dengan bebas. Mengapa?
Hassan bertanya tentang perkembangan musik di pondok Pesantren karena, baginya, musik dapat memberikan makna yang kaya: pada tingkat emosional, musik dengan melodi yang jernih dapat menjangkau alam perasaan yang membantu melepaskan beban, dan membantu mencari jati diri: musik secara mediatif mengepung lirik hingga mencapai kualitas lagu rohani ke tingkat spiritual yang tinggi. Misalnya, dengan alat musik gitar sebagai pengiring.
“Tidak!” Tukas Tuan Guru dengan tegas, “Di sini, di pondok kami tidak di perbolehkan memainkan alat musik, sekalipun itu gitar”. Ia berhenti membenahi kopiahnya sejenak, lalu, meneruskannya kembali, “Kami hanya mengijinkan santri bermain musik dengan alat-alat dapur”.
Saat itu, aku melihat cahaya menyingsing di wajahnya. Seolah, ia sedang memberi isyarat bahwa tak satupun boleh mengoreksi keputusannya, sekalipun itu anak atau menantunya.
Kami diam terpaku. Aku melihat Hasan terkulai, seperti tak lagi memliki energi yang dapat membuatnya bertahan lebih lama di ruangan ini. Mengapa alat musik tidak boleh dimainkan? Dan semakin panjang aku memikirkan hal ini, aku hanya menemukan sebuah tanda tanya di tempat yang dulunya diisi oleh keyakinan lama. Pondok ini memiliki disiplin tersendiri, peraturan, batasan dan prinsip sendiri. Dan tentu saja, sebagai tamu, kami harus menumbuhkan rasa hormat yang sehat terhadap semua peraturan yang telah berlangsung sekian lama, sekaligus yang kami temui hari ini.
Saat berpamitan kepada Tuan Guru, senyum kami masih mengembang, meskipun kami merasa telah berhasil keluar dari sebuah dunia asing. Dan saat berada di mobil, aku justru merasa masuk kembali ke dunia yang benar-benar asing, tatkala aku mendapati abang dan kawan-kawanku saling membeku dan diam. Aku bisa mengerti situasi ini, khususnya kepada perasaan Hasan yang mungkin tak dapat lagi mendentingkan gitarnya di sepanjang workshop, di pondok ini.
Di sepanjang perjalanan ke arah Senggigi – kami akan mengadakan pertemuan dengan Program District Manger UNFPA Lombok Barat (Bapak Ahmad Pua Too) – tampak wajah-wajah protes yang tertahan, dan tak tersalurkan. Pemandangan indah, di sisi kiri dan kanan, tampak terlewati sia-sia. Wajah Tuan Guru, seakan ikut serta di dalam mobil ini.
Sesekali, aku melambai ke arah mobil yang membawa Ustadza Lubna dan suaminya yang berusaha mendahului mobil kami, agar dapat memandu jalan.
Aku ingin mencairkan kebekuan ini, atau, setidaknya mengganti suara-suara desahan yang kudengar menjadi sebuah senyuman, tapi aku tak mampu. Pikiranku justru sedang menganalisa sendiri, bahwa lambat laun perjalanan musik di dunia Islam tercegat oleh perdebatan para ulama yang berbeda persepsi antara boleh atau tidaknya musik dari sisi fiqhiyah, sehingga yang ada malah tertinggal.
Di pungkiri atau tidak, Islam dengan segala kekayaan keseniannya merupakan salah satu faktor pendukung yang kuat terhadap perkembangan dunia musik. Bahkan sebagian alat musik seperti seruling dan gitar spanyol merupakan hasil kreasi seniman Islam di belahan dunia Eropa (Kordova, andalusia). Padahal, seperti di ketahui bahwa peradaban Barat dibangun (dimulai) pada masa Renaissance. Yang diilhami oleh peradaban Yunani. Dan pada masa kejayaan Islam peradaban Yunani di terjemahkan secara massal.
Dalam sejarah peradaban Islam, tokoh yang sangat agresif dalam menghidupkan pemikiran Yunani adalah Al – Farobi. Ia dikenal sebagai seorang musikalis handal kelas dunia. Dan melahirkan karya monumental yang berjudul Al musiqo al Kabir. Sehingga pada masa itu pula teori-teori tentang musik mulai dirumuskan, sekaligus berbagai macam alat musik mulai ditemukan.
Menurutku, melalui musik pun seseorang bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Seperti yang pernah di pratekkan oleh seorang Jalaludin Rumi. Karena dengan tarian darwisnya yang eksotik, mengagumkan serta sarat akan simbol-simbol, ia mampu melakukan praktik spiritual sebagai jalan pendekatan menuju Tuhannya.
Pikiranku menerawang menjelajahi berbagai sudut pandang yang berbeda, membangun argumen, menghantarkan ide melawan pemikiran dari sisi lain, ke sisi lainnya lagi. Sebab, tiba-tiba, aku teringat sebuah autobiografi spiritual “Menerobos kegelapan” (Karen Amstrong), dalam kisahnya yang amat personal itu, ia menceritakan bahwa di dalam biara, Bunda Walter, guru para novis menyatakan dengan penuh kemarahan: “.....Orang yang perlu gitar agar mau menghadiri Misa pastilah punya iman yang lemah!” (Menerobos kegelapan, Rabu Abu, hal: 113)
Aku sedang tidak memperkuat tentang “penolakan gitar” dari dua keyakinan yang berbeda, tetapi, ini hanya terjadi di pikiranku, dan hanya di pikiranku. Bila tedapat perubahan yang signifikan – dari masa lalu, yang diceritakan Karen Amstrong – ke perkembangan yang dapat menerima gitar di dalam Misa saat ini, lalu, mengapa aku masih menjumpai jaman “Karen Amstrong” pada hari ini.
Perjalan kami berakhir di depan cottage “siti hawa”di tepi pantai, yang di dirikan oleh Bibinya ustadza Lubna. Aku berkenalan dengan “Bibi” yang murah senyum itu, juga suaminya yang berasal dari Australia: Seorang pecinta tanaman organik, dan lebih bahagia jika di akui sebagai orang Lombok.
Aku merasa sesuatu dalam diriku bergerak bebas, rileks dan meluas, ketika bertemu dengan Pak Ahmad Pua Too; berasal dari flores dan menetap di Lombok. Ia begitu ramah, santun, dan selalu ingin menampung pendapat orang lain dengan sikapnya yang sederhana.
Kami duduk bersama di atas bale-bale, di pondok yang menghadap ke pantai. Sepanjang kawan-kawanku bercerita bahkan mengungkapkan ketidakpahaman, argument, dan kekecewaan terhadap penolakan alat musik (gitar) kepada Bapak Ahmad Pua Too, aku justru menatap lautan biru yang menawan, di depanku. Aku berpikir, di kedalaman sana seharusnya semua hal yang bersifat memenjarakan di tenggalamkan.
“Saya minta maat atas semua hal yang terjadi, yang mengecewakan kalian” suara Pak Ahmad Pua Too yang berlogat Flores itu menyela lalu lintas pembicaraan kami, seketika kami terdiam, lalu Pak Ahmad berkata lagi, “saya pikir, alangkah baiknya, jika kalian membuktikanya pada acara pembukaan besok di IAIN”.
“Apakah di IAIN...” tanya Hasan yang seketika terhenti, dan disela oleh jawaban Ustadza Lubna yang seolah-olah telah mengerti apa yang ada di pikiran Hasan.
“Anda tidak perlu khawatir, karena di IAIN, anda dapat bebas bereksplorisasi dengan gitar kesayangan anda” kata Ustadza Lubna, tersenyum meyakinkan ke arah Hasan.
“Benarkah? Bukankah anda mengatakan sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi IAIN adalah alumnus Nurul Hakim? Tentunya, mereka tetap berasumsi sama seperti ketika mereka berada di Nurul Hakim”
“Tentu saja tidak, IAIN memilik atmosfer yang lain. Besok pagi, anda akan membenarkan pendapat saya” jawab Ustadza Lubna sambil memutarkan pandangannya ke arah kami. Ia seperti burung yang memamerkan kecerdasannya dengan mengangguk-angguk kepalanya ke arah kami.
Siang datang lebih cepat. Di depanku, ombak bergulung-gulung menyisakan riak di pantai. Kulihat, suami Ustadza Lubna berlarian mengejar anak-anaknya di sepanjang pantai. Burung-burung bersayap besar berselancar di udara, seolah memamerkan kebebasannya kepada kami. Jujur, aku cemburu.
Dari sudut bangunan utama cottage “Siti Hawa”, kerudung besar Ustadza Lubna berkibar-kibar, saat ia berjalan keluar membawa makanan siang, juga pancake buatan bibi. Sementara aku tergiur dengan pancake goreng keemasan, bermahkota cabe hijau dan seledri, di sekelilingku orang-orang bercengkerama penuh tawa. Aku tak lagi mendapati gejolak keresahan. Semua sudah mencair, dan tiba-tiba, peristiwa tadi pagi begitu cepat menjadi masa lalu.
Pukul 16.00 WITA, di mushollah pesantren putri, aku seperti menyaksikan 500 burung bangau putih berlompatan dramatik, ketika di hadapanku santri-santri putri menyambut riang dan gegap gempita, setiap kali Ustadza Lubna memperkenalkan satu demi satu, diantara kami.
“Trainner Poetry reading adalah Bambang Sugianto, trainner musikalisasi adalah Hasan El more, trainner keaktoran/teater adalah Mohammad Sinwan,...... dan asisten trainner Benyo....”
Dan aku tidak bisa mewakili perasaanku sendiri untuk menghargai sambutan mereka ketika Ustadza Lubna menyebut namaku, sebagai trainner penulisan.
berikutnya 28 April 2008