|
: Ku yang Barat
Inikah kata-kata Kita? ”Apa kabarMu, Kekasih?” Rasa yang seperti gamang di tepi tebing, menanti dengan tangan terbuka menyambut, siap memeluk yang Pulang, rengkuh kepala-kepala penat dekap di dada..
Naluri Rahim yang naik, antara mata-air kehidupan: inikah kata-kata yang Kita kirim? "Betapa rindu menyusuiMu, Kekasih"
Yang berpendar-pendar menjaring layangan cinta, seperti saat melepas pergi, selaput dara Kita..
Sudahkah kata-kata Kita? ”Ku bersamaMu, Kekasih!” Rasa yang seperti gamang di ujung terjal, di belakang kita Matahari, di depan kita Bulan.. Di atas kita Bintang, penunjuk arah para pelayar..
”Pendek jangkau kakiMu, cakrawala.. Sempit raih tanganMu, semesta.. ”
Mungkin, inilah kata-kata Kita: Diam yang sehening bahasa..
Demikianlah kita tahu, ke nafas kita, mereka mengaduh, ke nafas kita, genderang nadi dan nadi berlabuh..
WIB, Maret 2010 : karena kata dan bahasa terlampaui juga

|