esasterawan.net

 

Akmal Jiwa

Laman utama
Maklumat peribadi
Weblog
Karya
Foto
Maklumat sisi
Promosi
Papan nota

info

Nama penuh
Ahmad Kamal Abdullah

Email
akmaljiwa@yahoo.com

Laman web lain
http://kudup9.multiply.com



weblog • 82 • lihat arkib weblog

Sabtu, 17 April 2010
dukana atau nestapa

 

bunda,

dukana kelam atau nestapa suram

berkelebat di tangkai takdirmu

 

bulan tak selalunya emas

riwayat grafmu adunan cemas

lahirku apakah dalam goda

atau semarak hilang peta

 

adapun nipis gerimis ini

di mana pelanginya 

kau sembunyikan airmata

dalam senyum akhirmu

 

jalan zigzag duniawi

hatiku tak selalu tabah

hati penyair

cintaku selalu patah

hurufhuruf tak selalu muncul

tak ada noktah

si pencari cinta

 

bulan putihkah ini

menggalur aduhmu

satu demi satu

 

aku kenangkan payahmu

melawan arus

walau hatimu tulus

 

dalam nipis gerimis ini

bunda..

 

april 2010



Disumbangkan pada 10:48:24 AM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Sabtu, 17 April 2010
Gerimis Nipis

Gerimis Nipis ini bunda 

aku kenangkan

violet kalbu kita

gumul cinta ajaib

permata dari arasy Ilahi

bertatah kemilau zamrudi

di kalbumu

kini jatuh menjadi manik-manik

puisiku.  Gerimis nipis ini

balutan sukma abadi

memerah kesumba

kata-kata baldu

membuah anggur cinta

terbelah  di subuh dini..

 

Nipis gerimisku ini

bunda..

 

april 2010



Disumbangkan pada 10:36:24 AM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Khamis, 15 April 2010
beberapa puisi oleh Hilmi Rindu

 

1 Januari 2007

seseorang dituduh membunuh

telah dibunuh

sang pembunuh agung.

 

Diam

subuh diam

melihat kita bimbang

langit diam

melihat kita mengintai-ngintai

alam yang diam-diam

memungut embun

di hujung daun.

 

Antara

Antara wang dan perancangan

antara sahabat dan perniagaan

antara impian dan masa depan

antara politik dan pembangunan

kita tiba-tiba kehilangan

sebuah taman.

 

Batu

kekuatannya

diturap menjadi jalan

dijulang menjadi tiang

diangkat menjadi tugu

dan disemadikan menjadi batu nisan.

HILMI RINDU

(dipetik dari Kumpulan Bagai Ada Sesuatu DBP:2010)

 



Disumbangkan pada 2:27:27 AM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Khamis, 8 April 2010
puisi cinta nanang suryadi

Nanang Suryadi: Beberapa sajak untuk Istri Tercinta

Beberapa sajak untuk Istri Tercinta


Bersyukurlah
dengan
rasa sakit yang kita nikmati
dengan
rasa bahagia yang kita khidmati
dengan
menerima segala selapang sunyi

7 Juli 2008


Sudahlah

malam telah melarut
airmata telah melaut
sudahlah,
kita berpelukan saja

2008



Untukmu

:kunthi

aku ingin menulis sajak, untukmu
seperti dulu
mungkin tentang hujan
yang turun di saat senja

sebagai puisi yang diam-diam
kutuliskan
hujan perlahan menyapa
dengan ingatan

aku ingin menulis sajak, untukmu
seperti dulu
mungkin tentang pelangi
yang melengkung di saat senja

tapi tak kutemu pelangi,
di langit,
matahari baru saja pergi
tak menyisakan cahaya

aku ingin menulis sajak untukmu,
seperti dulu, seperti dulu
di waktu kita dimabuk rindu

Malang, 2006



Menjelang 18 Oktober

:kunthi hastorini

1.

aku ingin menulis
lagi, pada serpih hari
yang gugur

dari penanggalan
seperti puisi

yang diam diam
membayang
di pelupuk mata

terpejam


2.

tanggal berapa sekarang,
bisikmu

sebagai tanya yang sama
dalam bayang,

rentang usia

menata bata demi bata
di hidup kita


17 Oktober 2006




Aku Ingin Menulis Lagi

Aku ingin menulis lagi:

Mungkin tentang dongeng,
manusia lumpur yang tiba-tiba datang
ke dalam mimpiku

Mungkin tentang waktu
yang tiba-tiba membiru
seperti jam yang meleleh
di kanvas salvador

Aku ingin menulis lagi:

Mungkin mengisi kekosongan
jeda di dalam dada
hingga hari-hari menjadi hibuk
sibuk memaknai tanda

Mungkin seperti sediakala
menulis tentang cinta dan cinta
di hari hari menua
dan uban memenuhi kepala

Aku ingin menulis lagi. dan lagi.
tentang cintaku kepadamu

selalu!


17 Oktober 2006




BAHKAN JIKA

rabalah dadaku,
dengar detak di dalamnya,

sebagai puisi:

"bahkan jika waktu tak lagi ada,
di surga atau neraka

kita akan tetap bersama

bahkan jika dunia telah tutup usia
di surga atau neraka

kita akan tetap mencinta"

19 Oktober 2006


KITA MASIH DI SINI

seperti saat lalu,
kita masih di sini

menghitung butir-butir hujan
yang jatuh di sudut kamar,

seperti saat lalu,
kita masih di sini

memandang sarang laba-laba
di langit-langit kamar

seperti saat lalu,
kita masih terus berdekapan

rasakan detak pada waktu
di dalam dada

mungkin kau menyebutnya
sebagai bahagia




INGATAN PADA SEBUAH LAGU
:bunda atta

sebuah lagu,
demikian samar,
dentingnya

seperti puisi,
yang didesahkan angin,
menelusup jendela kamar

saat aku bercanda dengan matamu,
berenang-renang di arus cahaya,
ditingkah kekeh tawa manjamu

sebuah lagu
demikian samar dibisikkan angin,
ke telinga kita yang berbahagia



Disumbangkan pada 10:20:14 AM • Lihat komen (2) / Tambah komen


Khamis, 1 April 2010
S A J A K KEMALA
D I L E M B A H A N A I


Di Lembah Anai


Merenung hikmah kerajaan air
turun dari langit menyatu di bumi.

Air danau cantik di kawah-kawah
menderu laju ke lembah-lembah.

Menjunam di air terjun Anai ini.

Menatap bayang wajah
membenam ke hati gundah.

Mengilat pancaroba pengelana asyik
apa yang dicari?

Selain detik menuju titik abadi.

Juraijemurai memburai
gelungmenggelung benang kasar
melengkunglengkung damai
riak mengecil membesar.

Tak gerun pada kerikil tajam batubatu terjal.

Rela merelakan dalam bahasa kasih
kurun ke kurun, iklim merajut musim.

Dalam kamus diri
bahasa cinta dari langit sempurna.

Ini pelangi sunyi di mata bundar kekasih.



K E M A L A

Bukittinggi, Februari 2010
Dipetik dari "Sumsum Bulan Rawan".



Disumbangkan pada 1:21:54 PM • Lihat komen (3) / Tambah komen


Ahad, 21 Mac 2010
SIMBOLISME dalam puisi di Malaysia 1970-1990
Simbolisme merupakan aspek yang penting dalam puisi Islam. Aliran simbolisme mewarnai puisi penyair agung Islam seperti Jalal-al Din Rumi, 'Umar al-Farid, Iqbal dan Hamzah Fansuri. Landasan keyakinan penyair Islam ini bertunjangkan tauhid. Mereka berkarya semata-mata menuntut keredaan Allah. Seniman Islam termasuk para penyair menerima Islam sebagai addin (al-Din) iaitu suatu cara hidup. Puisi Islam tidak terpisah daripada hakikat ini kerana ia merealisasikan hubungan antara insan, al-Khalik dan alam. Alam yang dicipta Allah dengan segala kejadiannya mempunyai tanda-tanda (ayat) kebesaran-Nya. Simbolisme dalam persajakan Islam tidak hanya sekadar konstruksi mental palsu. Pengalaman rohaniah ini bukanlah rekaan semata-mata. Penyair yang berwibawa sentiasa memperbaharui simbol yang sesuai dengan pengalaman rohaniahnya. Mereka juga turut menghayati simbol warna dan angka dengan maknanya yang khusus... (lxxv). Kajian awal memperlihatkan makna yang simbolis bahawa sudah wujud minat dalam hal ehwal simbolisme Islam di kalangan sarjana di Malaysia. Simbol dan simbolisme sudah mulai dihubungkan dengan ad-Din Islam dan al-Quran, hadis, sufisme dan keilmuan Islam (termasuk teori sastera Islam) mulai diberikan perhatian yang sewajarnya. Hal ini merupakan suatu kesedaran dan tanda-tanda yang sihat. Dari sinilah saya melakukan kajian "Simbolisme dalam Puisi Islam di Malaysia 1970-1990" melalui 24 teks oleh 14 penyair. Keakraban penyair Islam Malaysia dengan al-Quran melahirkan puisi yang membawa seni penggayaan al-Quran dengan penerangan ilmu balaghah. Dalam puisi mereka ditemui unsur-unsur tawazun iaitu tenaga bunyi yang indah dan merdu, unsur keseimbangan (wazan) dan keindahan (al-Iftinan)...( h.435). Simbolisme dalam puisi Islam di Malaysia 1970-1990 kaya dengan simbol yang selaras dengan al-Quran, naratif para nabi, para sahabat, citra tokoh mungkar dan sesat, alam kosmos, bumi, samudera (lautan), flora dan fauna, keilmuan Islam, tasawuf dan tradisi alam Melayu. Tanpa simbolisme, puisi Islam tidak akan wujud (h. 436). Ahmad Kamal Abdullah, Simbolisme Dalam Puisi Islam di Malaysia 1970-1990 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2010). 477 hlm. RM40/=. Boleh dibeli di kaunter DAWAMA Pesta Buku Pusat Dagangan Putra sekarang. AKMAL JIWA

Disumbangkan pada 1:05:22 PM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Jumaat, 19 Mac 2010
KARYA TERJEMAHAN PEMENANG NOBEL SASTRA
Karya Terjemahan Pemenang Nobel Sastra
By Arafat Nur

2006
Orhan Pamuk
1. Istambul, Serambi 2009
2. Snow, Serambi 2008
3. New Life, Serambi 2008
4. White Castle, Serambi 2007
5. My Name is Red, Serambi


2004
Elfriede Jelinek
1. Sang Guru Piano, KPG 2006


2003
J. M. Coetzee
1. Aib, Jalasutra 2005
2. Kisah Hidup Michael K, Jalasutra 2003
3. Jeritan Hati Nurani, Yayasan Obor Indonesia 1999


2002
Imre Kertesz
1. Fateless, Bentang 2005

2001
V. S. Naipaul
1. Sebuah (Sepetak) Rumah Untuk Tuan Biswas, Jalasutra 2003
2. Mencari Titik Pusat, Sadasiva 2003


2000
Gao Xingjian
1. Gunung Jiwa, Jalasutra 2003


1994
Kenzaburo Oe
1. Jeritan Lirih, Jalasutra 2004


1993
Toni Morrison
1. Cinta, Serambi 2005

1990 Oktavio Paz
1. Puisi dan Esai Pilihan, Bentang 2002


1989
Camilo Jose Cela
1. Keluarga Pascual Duarte, Gramedia Pustaka Utama, 1996


1988
Naguib Mahfouz
1. Pengemis, Grafiti 1996
2. Lorong Midaq, Yayasan Obor Indonesia, 1996
3. Awal dan Akhir I dan II, Yayasan Obor Indonesia, 2001
4. Aku Musa, Engkau Firaun, Tarawang, 2000
5. Kabar Dari Penjara, Tarawang 2000
6. Hari Terbunuhnya Presiden, Fajar Pustaka Baru 2000
7. Di bawah Bayang-bayang Perang, Fajar Pustaka Baru 2000
8. Zahiya, Tarawang 2000
9. Hotel Miramar, Fajar Pustaka Baru 2001
10. Demit, Pustaka Alief 2003
11. Harafisy, Bentang 2004
12. Cinta di Kota Terlarang, Bentang
13. Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, Bentang 2002
14. Lelaki dalam Pasungan, Jendela 2003
15. Karnak Cafe, Alvabet 2008


1982
Gabriel García Márquez
1. Selamat Jalan Tuan Presiden, Bentang 1999
2. Seratus Tahun Kesunyian, Bentang,2003
3. Sang Jenderal dan Labirinnya, Jalasutra 2004
4. Klandestin di Chile, akubaca 2002
5. Tumbangnya San Diktator, Yayasan Obor Indonesia 1992
6. Wanita Yang datang Pukul 6 (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000.


1971
Pablo Neruda
1. Nyanyian Revolusi, Jalasutra Jakarta 2001
2. Para pemalas dan Putri Duyung, Forum Sastra Bandung 1996.


1970
Alexandr Solzhenitsyn
1. Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich, Pustaka Jaya 1976
2. Gulag, Bentang 2005


1969
Samuel Beckett
1. Menunggu Godot, Bentang 1999

1968
Yasunari Kawabata
1. Keindahan dan Kesedihan, Jalasutra 2003
2. Seribu Burung Bangau, Bentang Budaya 2001.
3. Rumah Perawan, 1977


1964
Jean-Paul Sartre
1. The Age of Reason, Jendela 2002
2. Kata-kata, Gramedia 2001
3. Dinding (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
4. Pintu Tertutup,1979
5. Pelacur, 1954


1962
John Steinbeck
1. Sebuah Impian Lennie, Ufuk Press 2006
2. Tikus dan Manusia, Lentera 2005
3. Amarah 1 dan 2, Yayasan Obor Indonesia 2000
4. Bunga-bunga Krisan (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
5. Cannery Row, Sumbu Dataran Tortilla, Pustaka Jaya 1977
6. Kena Gempur, 1951


1958
Boris Pasternak

1. Dr Zhivago, Djambatan 1960
2. Manusia Sejati, 1959


1957
Albert Camus
1. Orang Aneh, Nusa Indah-Matahari 1980
2. Orang Asing, Penerbit Djambatan 1984
3. Sampar, Yayasan Obor Indonesia 1985
4. Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, Gramedia 1999
5. Pemberontak [The Rebel, Bentang Budaya 2000.
6. La Chute, Tinta 2004


1954
Ernest Hemingway
1. To Have and Have Not, Selasa Publishing 2009
2. Lelaki Tua dan Laut, Selasar Publishing 2008
3. Angkatan Kelima, Pedati 2003
4. Salju Kilimanjaro, Yayasan Obor Indonesia2002
5. Pertempuran Penghabisan, Yayasan Obor Indonesia 1997


1950
Bertrand Russel
1. Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar 2006
2. Pergelokan Pemikian, Yayasan Obor Indonesia 1991


1947
Andre Gilde
1. Pendidikan Istri (Yayasan Obor Indonesia 2008)

1946 - Hermann Hesse
1. Sidharta, Bentang 2002
2. Perjalan ke Timur, Tirai 2004
3. Demian, Mata Angin


1938
Pearl Buck
1. Angin Timur Angin Barat 2009
2. Bumi Yang Subur, Gramedia 2008
3. Wang Si Macan, Gramedia 2008
4. Runtuhnya Dinasti Wang 2008
5. Maharani, Gramedia 2007
6. Mandala, Gramedia 2007
7. Peony, Gramedia 2006
8. Madame Wu, Gramedia


1934
Luigi Pirandello
1. Cerita-cerita dari Sisilia, Jalasutra 2004
2. Pidato Nobel dan 3 Cerita Pilihan, Yayasan Akubaca 2001

1825
George Bernard Show
1. Manusia AdiManusia, Bentang


1920
Knut Hamsun
1. Lapar, Yayasan Obor Indonesia 1993


1913 Rabindranath Tagore
1. Gitanjali, Pustaka Jaya
2. Sanyasi, 1979
3. Anak,1979
4. Tukang Kebun, Pustaka Jaya, 1996
5. Bhimala, Jejak 2008
6. Bulan Sabit, Bentang 2003
7. Siul Gelombang, Bentang 2003
8. Batu-batu Lapar, Bentang 2003
9. Masa Kecilku, Bentang 2003
10. Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, Bentang 2003



Disumbangkan pada 7:52:18 PM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Rabu, 3 Februari 2010
Menghantar Rasa Pilu
MENGHANTAR RASA PILU DENGAN PUISI Share Today at 11:32am | Edit Note | Delete MUSRIADI MUSANIF - Singgalang Senin, 1 Februari 2010 Pagi ini Singgalang tersintak Isyarat telah dihantar langit Padang Pariaman menggeletak Ribuan tgerkubur Iklim dan musim membuak. Inikah tanda kiamatkian Mendekat mencekik umat? BAIT demi bait puisi yang dibacakan oleh pengarangnya, seorang penyair kondang Malaysia, Dato' Dr Haji Ahmad Khamal Abdullah alias Kemala, membuat puluhan pasang mata tak berkedip. Mata-mata itu adalah milik penyair-penyair kenamaan Sumatera Barat dan Malaysia, puluhan guru Bahasa, Bahasa Indonesia dan siswa- siswi yang bergabung di sanggar sastra yang diasuh Rumah Puisi Taufiq Ismail, Nagari Aie Angek, Tanah Datar. Dato' Kemala pun turut terhanyut dengan untaian kata demi kata yang dia rangkai dan bacakan. Penghadir pun seakan larut dalam suasana tak menentu, menukilkan perasaan mereka tatkala gempa dahsyat berkekuatan 7,9 SR memporak-perandakan pesona Minangkabau pada 30 September 2009 lalu. Puisi yang dibacakan Dato' Kemala itu adalah satu dari 95 puisi karya 80 penyair yang dirangkum dalam Antologi Puisi Penyair Nusantara "Muisbah Gempa Padang" dan diterbitkan Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Kualalumpur, Malaysia. Selain penyair- penyair Malaysia, antologi itu juga memuat puluhan puisi karya penyair-penyair muda Indonesia. "Semoga dengan hadirnya antologi puisi ini, bisa mempererat persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia. Tak boleh ada kusut lagi dalam hubungan bangsa serumpun. Seabagai penyair, sebenarnya kita heran, masalah tetek-bengek bisa membuat hubungan dua bangsa bersaudara jadi berantakan," ujar Dato' Kemala yang mernjadi editor tunggal antologi puisi itu, Sabtu (30/1), menjawab Singgalang, sesaat setelah kedatangannya ke Rumah Puisi Taufiq Ismail. Dikatakan, antologi puisi yang diluncurkan itu, di Malaysia telah menghasilkan donasi sebanyak 10 ribu Ringgit. "Uang tersebut akan disumbangkan kepada korban di Padang Pariaman," ujar Dato' Kemala yang mengaku orangtuanya Abdullah bin Haji Daud berasal dari Pasaman. Sementara itu Prof Dr Arbak Othman dari University Putra Malaysia (UPM) menyatakan, antologi puisi Musibah Gempa Padang mampu memberikan sesuatu yang berharga, baik dari sisi kemanusiaan maupun kebahasaan. Ruh dan nilai rasa yang tinggi tuturnya, membuat kita bisa terhanyut dan menyentuh perasaan tentang betapa sedihnya saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana alam itu. "Puisi bukan sebidang tikar permadani. Polanya bebas dan tersendiri. Ia adalah bumi lecah yang hanya difahami oleh orang yang melacak bumi berlumpur. Terlalu banyak lumpur terpalit di kaki masyarakat. Jejak-jejaknya berpeta-peta, manakala bunyi- bunyinya pula bersajak. Kerana itulah puisi tergolong kepada karya sastra yang indah, sedap didengar dan enak dibawa ke mimpi," kata Arbak. Basril dan penyair Usai diluncurkan secara resmi Antologi Musibah Gempa Padang yang diulas Prof. Arbak dan sastrawan nasional Dr. Taufiq Ismail, satu persatu penyair Sumbar yang hadir di acara itupun didaulat untuk membacakan puisi-puisi yang termaktub di dalam buku antologi yang penerbitannya disponsori Tan Sri Dr Hamad Kama Piah presiden dan ketua eksekutif Grup Permodalan Nasional Berhad (PNB) serta penasihat Akademi Penyair Malaysia (APMA) itu. Mulanya Emmy Marthala didaulat membaca puisi karyanya sendiri yang dimuat dalam antologi, disusul Silfia Hanani. Usai kedua puteri Minangkabau yang jadi mahsiswa Dato' Kemala diKualalumpur itu memukau penghadir, penyair kondang semisal Gus TF Sakai, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Darman Moenir, Papa Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Sastri Yunizarty Bakri, dan Sulaiman Juned pun tampil dengan mengundang decak kagum penyair-penyair negatra jiran itu. Pemimpin Umum Harian Singgalang, H. Basril Djabar yang hadir bersama istri pun didaulat untuk membaca puisi. Kendati Basril lebih dikenal sebagai seorang tokoh masyarakat, ekonom, wartawan dan pengusaha, namun kebolehan Basril dalam membacakan puisi mendapat perhatian yang luar biasa dari penghadir. Tepuk tangan mengiringi langkah Da Bas - sapaan Basril Djabar - kembali ke kursinya usai membaca puisi, membuktikan apresiasi kepenyairannya cukup memuaskan. "Penampilan para penyair kondang dari Sumbar dan Malaysia itu memotivasi saya untuk bisa tampil seperti ini," komentarnya singkat. Taufiq Ismail mengakui, peluncuran Antologi Puisi Musibah Gempa Padang sebagai karya monumental para penyair kenamaan Malaysia di Rumah Puisi, merupakan momen penting dan sangat bersejarah dalam dunia kepenyairan Ranah Minang. "ini adalah pertama kali Rumah Puisi menerima sastrawan, penyair dan budayawan hebat dari Malaysia. Langkah mereka meluncurkan antologi puisi sebagai wujud turut berduka, dan empati mereka terhadap Ranah Minang, menjadi sesuatu yang diharapkan mampu mempererat tali persaudaraan sesama muslim dan bangsa serumpun," ucap Taufiq. (*)

Disumbangkan pada 3:58:42 PM • Lihat komen (4) / Tambah komen


Ahad, 29 November 2009
METARASA SYURGA KE SEMBILAN
METARASA DALAM PUISI KEMALA DALAM KUMPULAN “SYURGA KE SEMBILAN” Antara Pengucapan Kognitif Dan Intelektualiti Oleh ARBAK OTHMAN UPM Pendahuluan Sebagai suatu tinjauan semula senario kritikan Abad ke-20 yang lalu, pada satu pihak wujud segolongan apa yang dinamakan pengkritik impresionis yang melahirkan keinginan untuk menghasilkan kesan-kesan teks kesusasteraan secara yang memuaskan, tetapi menghadapi kesukaran untuk menghubungkannya dengan struktur. Pada pihak yang lain terdapat golongan pengkritik strukturalis dan analitis yang cemerlang dalam deskripsi struktur teks kesusasteraan, tetapi masih tidak jelas tentang apa yang dikatakan signifikan manusia daripada teks tersebut, atau bagaimana kesan-kesan tanggapan mereka dapat dinyatakan. Puitik kognitif, sebagaimana yang diamalkan dalam kajian ini, menyediakan teori kognitif yang menerangkan hubung-kait antara struktur teks kesusasteraan dan kesan-kesan yang tertanggap dengan cara yang sistematis. Istilah “puitik” dapat didefinisikan sebagai: The actual objects of poetics are the particular regularities that occur in the literary texts and that determine the specific effects of poetry; in the final analysis─the human ability to produce poetic structures and understand their effects─that is, something which one might call poetic competence (Bierwisch, 1970: 98-99). Dengan kata lain, puitik merupakan bidang disiplin yang cenderung melihat bagaimana ketidakseragaman puisi (sebagai kesan strukturnya yang agak bebas mengikut kata-kata yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam struktur diksi) untuk memahami kesan-kesannya, atau kompetens puitik dalam seni karya. Manakala Puitik Kognitif merupakan pendekatan untuk mengkaji kesusasteraan dengan menggunakan alat yang disediakan oleh sains kognitif. “Sains kognitif” pula merupakan istilah yang memayungi beberapa disiplin yang menyelidiki pemerosesan maklumat manusia: psikologi kognitif, psikolinguistik, kebijakan buatan (artificial) dan cabang linguistik tertentu, termasuk falsafah sains. Semua ini meneroka proses psikologi yang terlibat dalam penguasaan, organisasi dan penggunaan pengetahuan; malahan, dalam semua maklumat pemerosesan aktiviti mental, dalam jangkauan daripada analisis penggerak segera kepada organisasi pengalaman subjektif. Puitik Kognitif meneroka sumbangan sains kognitif kepada Puitik (seperti karya puisi), yang berusaha untuk mencari, untuk mengetahui bagaimana bahasa dan bentuk, atau keputusan pengkritik, dikekangi dan dicorakkan oleh pemerosesan maklumat manusia. Tujuan pendekatan yang menggunakan teori kognitif ini ialah untuk memberi cahaya kepada kesusasteraan, serta membuat generalisasi yang meluas dalam usaha mengaplikasikan karya seni kesusasteraan dan pada masa yang sama juga menyediakan cara untuk membuat perbezaan yang bermakna antara karya kesusasteraan khusus, seperti karya puisi Kemala yang dianalisis ini. Pendekatan ini sangat serasi dengan pendekatan pragmatik Sperber & Wilson (1986,1997), mahupun pendekatan tafsir pengalaman Halliday & Matheessen yang dinamakan “Construing Experience Through Meaning” (2002). Oleh sebab kata-kata puitik Kemala terpetik daripada kategori berkonotasi halus, sesetengahnya digunakan dalam bahasa komunikasi biasa, penulis akan menggunakan makna-makna komunikatif pada aras interpretasi untuk menelusuri idea dan nilai kandungan yang mendasari wacana puitiknya ─ bahasa yang menghubungkan dirinya dengan entiti kekusaan paling halus, paling seni dan paling tinggi dapat dirasakan di domain perasaan yang berkemampuan mendekatkan makna-makna jauh kepada dirinya sedekat yang terkesan oleh bahasa puitik. Makna diri yang didefinisikan dalam puisi-puisinya adalah makna yang terahsia atau yang tersembunyi pada jasad kata dalam proses melafazkan apa yang dinamakan “roh” puitik. Kata-kata yang dipakai oleh penyair dalam kebanyakan puisi dalam antologi Syurga Ke Sembilan ini terdiri daripada kata-kata yang menghubungkan roh inteteleknya kepada Tuhan Pencipta Alam pada aras pemahaman mujarad sebagai kewujudan yang memberikan rahmat dan nikmat kepada manusia yang memahami kekuasaan Maha Esa itu. Kewujudan ini sering dikaitkan oleh Kemala dalam hasratnya untuk mengkategorikan jenis pengalaman sosial yang disaksikannya dalam masyarakat dan budaya bangsanya. Pengucapan penyair tentang keunggulan kekuasaan Tuhan dizahirkan dalam makna-makna yang jauh dan indah tetapi nyata pada aras akaliah orang-orang (pembaca) yang menganggap kebaikan (wisdom) dan kebijaksanaan sebagai pelindung dan pengirim utusan melebihi makna bahasa tentang Tuhan dan ketuhanan, tentang manusia dan kemanusiaan dan tentang hakikat sosial dan alamiah. Dalam konteks ini, penulis perlu menggunakan teori Relevans Sperber & Wilson untuk mengeluarkan umbi makna yang tersirat pada tanah atau dasar yang memegang umbi tersebut. Menurut teori Relevans setiap kata yang digunakan dalam pengucapan akan relevan maksudnya (komunikatif atau siratan) apabila pembaca atau pendengar menerima jangkaan maksimum kerana jangkaan maksimum ini akan memberikan kesan kognitif (makna yang terfikir sebagai unsur kebenaran, dan bukannya kepalsuan) yang positif, yakni maksud yang betul dan bukannya palsu pada aras kesedaran. Ini kerana, setiap kata yang digunakan dalam puisi adalah kata yang dipilih melalui penyemakan sengaja, supaya makna-makna yang berada pada dasar ucapan atau ujaran datangnya daripada ketetapan akaliah yang dinamakan ‘kognisi’ itu. Oleh sebab itu, kata-kata yang dipakai dalam puisi mendapat jangkaan penuh pembacanya. Sekiranya jangkaan maksimum tidak tercapai, pembaca akan menyusuri semula penerimaan jangkaan tersebut melalui kebolehannya menafsir lambang dalam puisi. Kebolehan menafsir diperlukan oleh pembaca karya puisi menggunakan bahasa pelambangan sebagai cara memasuk-muatkan nilai seni pada kandungan mesejnya. Jika ujaran puitik dibentuk dalam konteks yang betul, maksud puisi akan menjadi lebih mudah untuk dicapai. Bahasa puitik dibezakan daripada bahasa komunikasi oleh kehadiran lambang (tanda) dalam struktur diksi, yakni unsur yang tidak ada dalam struktur ujaran komunikatif. Itulah sebabnya maka tidak semua pembaca dapat memahami maksud ujaran puitik dalam puisi. Oleh sebab itu, penggunaan kata dalam puisi tidak boleh disangkal kesesuaiannya, kecuali apabila bahasa itu diucapkan oleh orang-orang yang tidak berakal. Kemungkinan yang benar Salah satu kemungkinan dalam puisi ialah adanya keindahan. Dalam karya puisi, kindahan didefinisikan menurut kedua-dua domain visual dan penghayatan, melalui peralatan yang mempertentangkan kekangan kognitif daripada yang paling rendah kepada yang paling tinggi, atau daripada yang lazim kepada yang paling halus. Keindahan inilah akan digunakan dalam tinjauan ini untuk meneliti keindahan puisi-puisi Kemala menurut kadar kehalusan (daripada yang indah kepada yang sensitif) yang dibentangkan pada ujaran dalam puisi-puisi ciptaannya. Walaupun penulis menggunakan pendekatan pragmatik secara bertindan dengan kuasa linguistk ke atas karya, atau terjemahan kata-kata kepada kuasa intelek atau kebijakan penyair, saran-saran kognitif akan diusahakan bagi dinyatakan aplikasinya kerana peralatan seperti ini dapat lebih mungkin menterjemah intelektualiti karya yang dicurahkan oleh kuasa kebijaksanaan penyair di permukaan dan dalaman puisinya. Kuasa ini akan diintip di tempat yang disediakan dalam puisi Kemala, kerana intelektualiti akan terjelma melalui serapan idea yang menunjangi sesuatu perjuangan batini, mahupun lahiri penyairnya. Setiap puisi Kemala dalam kumpulan “Syurga Ke Sembilan” mempunyai kuasa tertentu yang mengajak minda Melayu menafsir titik dan detik yang terungkap pada seni ujaran yang berbau harum di atas, di bawah, di kiri dan di kanannya. Antara titik dan detik yang disemadikan oleh penyair ke semua gunung dan lurah makna bertitipkan intan berlian, emas perak dan lumpur banir di semua persekitaran yang membentuk alam Melayu, kebijaksanaan Melayu, keperhatinan Melayu, termasuk kebodohan Melayu. Puisi Jangan Berduka Malaysiaku (h. 13) berupa sajak harapan yang mengilu masa depan anak generasi (seperti harapan ibu terhadap anak yang tidak menentu). Banyak sudut Melayu telah dicalar-balari jiwanya, kesanggupannya, tetapi semangat tetap mengental pada kegemilangan yang diwajarkan langkah-langlahnya yang tidak mengecewakan pada ketika itu (1984). Kegemilangan yang dijangkakan bersyarat, seperti yang diimbasi oleh makna ujaran stanza yang berikut ini: Kecil-kecil bintang seribu Langit tanah air mengerdip cahaya Kecil-kecil bintang kasihmu Titipkan rindu pahlawan utama. Ujaran yang bercetak miring itu menubuhkan persepsi tentang syarat perjuangan pahlawan sebagai tunggak pertimbangan, yakni bukan “pahlawan wang ringgit” sebagai kilasan di balik ironi. Kemungkinan yang dimaksudkan pada bahagian ini digunakan sebagai “keentahan” yang ‘menjejaki’ atau yang ‘tidak menjejaki’ niat penyair yang membuatkan puisinya itu diciptakan. Pembaca memang ada hak untuk menafsir tetapi hak itu tidaklah membolehkan realiti yang ditafsirkannya itu terkeluar daripada kemungkinan yang dihajati oleh penyairnya. Pengkaji mempunyai daya sekadar menafsir kata-kata yang digunakan dalam puisi, manakala keberhasilannya menjejaki makna-makna yang dihasratkan oleh penyair bergantung pada ilmunya tentang “pelambangan puitik”. Sekiranya interpretasi pembaca tidak bertemu di mana-mana persimpangan, kewajaran dan kerelevanan, kuasa pengujaan makna penyair menjadi tersadai di pantai kemungkinan. Jika di pantai ini tersadainya makna mujarad yang secara kebetulan ditemukan kepada pelaut, mesej puisi akan menjadi lebih selamat di ruang akaliah penyair yang akan gembira semula di muka alam. Manakala dalam sajak Sebuah Qasidah Akhir Abad 20 (h. 17), penyair mengutus benalah (paradoks) antara hakikat dan harapan yang dipersoalkan. Penyair menggunakan peranan alam yang mengilas nasib kehidupan manusia. Ungkapan “tarian arus menggodanya’ (iaitu, rumpai dan agar-agar yang tergetar menari) membayangi pilihan zaman manusia terhadap keseronokan hidup dalam kesementaraan “kolam tenang yang sesekali meriak” apabila “dilanggar sayap bangau pagi”. Tancapan “karang tajam” bersebab daripada “kealpaan penyelam” mencerminkan kecetakan ilmu pengetahuan yang tidak berdaya mengurus kebaikan dalam keistimewaan khusus secara berasingan. Manakala pada tanah air (bumi) yang tercinta sudah tersebar luas luka bangsa (berdasarkan interpretasi “lukaku”) yang digenangi oleh unsur fitnah-memfitnah (berdasarkan interpreasi “Amarah bulan melanda abad lemas”) yang sangat membingungkan. Dalam situasi yang melanda bangsa dan tanah air, Kemala mengajak semua pihak mengembalikan semula jatidiri bangsa dengan cara berbalik ke jalan Ilahi sebagaimana yang diamanahkan oleh Syidina Umar di zaman kaum Quraisy dilanda pancaroba kehidupan. Penyair menyaran satu keputusan yang bersifat “menyelamatkan” agar dilakukan seperti berikut (stanza 7): Asingkan madu dari tuba Asingkan firasat dari kesumat Di muka pintu alaf baru Di gerbang teka-teki Alam Melayu. Konotasi ‘alam Melayu’ sudah kian difahami oleh semua orang sebagai maksud yang mempunyai perkaitan dengan pemikiran Melayu yang dibendung oleh kepercayaan, kesenian, ekonomi, perpaduan dan ilmu pengetahuan (atau budi). Tafsiran ujaran dua baris terakhir yang diturunkan ini mendefinisi kepekaan semu penyair yang mencalit kebimbangan terhadap persepsi tanda-aras nasib masa depan bangsa Melayu dan negara: Terkaparkah bangau pagi? Terbakarkah sayap wangi? Walaupun sajak ini bagaikan sebuah lagu, dendangannya semacam memberi jawapan kepada telinga dan mata hati orang yang mendengarnya, sama ada dengannya mereka dihiburkan, atau disakiti; sama ada mempunyai jalan yang diberi cahaya untuk ke pangkalnya semula; atau sama ada yang cahayanya dibekalkan oleh matahari atau yang pelitanya dipasang di siang hari. Kemala banyak mendefinisi ‘Alam Melayu’ ini pada garis-garis jasad yang menterjemah merah darah bangsanya yang kian terjebak, meskipun masih ada nafas yang mengenalnya sebagai “Melayu” atas rupa yang masih berwajah dan lupa yang dilihatnya bagaikan berpanjangan. “Alam Melayu” dipetik daripada dasar sejarawi dan diungkap semula pada latar fenomena yang tidak terjunjung pada kebenaran Ilahi yang seharusnya menjadi tapak dan jejak segala keputusan. Peralihan yang keluar daripada pusat hakiki ini membuatkan nasib anak bangsa tidak bergalas kebaikan Ilahi (godly wisdom), tetapi sebaliknya kehanyutan di lautan tak bertepi. Warna tapak dan jejak seperti ini adalah antara asas-asas intelektualiti penyair apabila beliau memulakan pengucapan dan persembahan ideanya dengan pertanyaan yang tidak berkesudahan. Jawapan yang ditiadakan itu sesungguhnya ironis. Dalam puisi wujud kesemuan dari segi nilai murni yang diniati oleh penyair sebagai antara yang terungkap pada kata-kata dalam diksi dengan yang dapat dicapai oleh pembaca (pendengar). Kata tetap mempunyai makna, kerana setiap yang dipilih oleh penyair datang daripada kosa kata bahasa juga. Hal yang membuatkan maksud kata dalam diksi tidak semudah dicapai oleh pembaca atau pendengar bersebab daripada kandungan linguistiknya itu ditambahi dengan makna-makna peluasan sebagai kesan pelambangan atau penandaan yang lazimnya mampu digarap jika pembaca mempunyai pengalaman dan ilmu interpretasi kreatif yang memadai untuk mengesan perutusan puisi sebagai seni karya. Sebagai contoh, unsur “tak” dalam puisi Dalam Isyarat tidak berfungsi untuk menafikan tindak-tanduk objek alam kerana dari segi hukum alam setiap yang dicipta oleh Tuhan mempunyai fungsi yang mencergaskan alam dan digunakan oleh manusia untuk proaktif dengan pengaruh alam kepada kehidupan manusia. Setiap objek menyediakan sebab, manakala kesannya digunapakai secara fungsian oleh manusia dalam gerak yang dapat memanipulasi kemungkinan yang mereka pilih untuk kehidupan yang mereka anggap sebagai indah, bermakna, bermanfaat, bermatlamat dan bergembira untuk berkongsi mengikut keperluan. Ini kerana alam yang dicipta oleh Tuhan untuk manusia mempunyai dwifungsi; supaya objek mata dapat digunakan untuk melihat, selain berkelip, menggunakan dalih untuk menyatakan sebab dan alasan terhadap kejadian pengalaman, selain untuk membuktikan kebenaran yang diterima akal. Apabila objek menghentikan fungsi, lazimnya dalam fenomena alam, sesuatu tentu akan berlaku di luar logik peraturan. Ciri ini biasanya mengilas makna ‘ketamatan’ atau ‘keberakhiran’ kejadian Tuhan. Berdasarkan kehapusan fungsi alam seperti “penyair patah kalam” dan “ghairah padam meluluh waham”, kebenaran pada aras ini jelas bersifat syarat yang akan menghasilkan akibat. Apabila tanda sudah mulai bersyarat, alam Tuhan tidak lagi bebas daripada keputusan tindakan manusia. Dan jika sangkaan ini sampai ke tahap maksimum, yakni terpersepsi sebagai kesan kognitif yang positif di sisi pembaca, maksud “alamat akan jadi” sudah mengandaikan kebenaran bahawa kejadian kini berada pada aras kesedaran awal-awal lagi tentang apa yang diistilahkan sebagai “kemusnahan alam semula jadi, termasuk manusia di dalamnya”. Pada tafsiran pengkaji, sajak ini menafsir alamat kiamat melalui interpretasi tanda-tanda alam sebagai berlawanan (yakni, tidak akur lagi pada hukum) antara satu sama lain. Pengertian dicapai dengan anggapan bahawa pengkaji dipercayai “memiliki ilmu kesusasteraan” untuk sampai kepada interpretasi yang disimpulkan. Kebenaran ini akan menjadi palsu jika hukum alam beroperasi semula untuk melawan ironi negatif yang dimaksudkan oleh sebutan “tak” dalam puisi Dalam Isyarat itu. Latar pengucapan puitik Dalam sejarah penghasilan karya puisi memang terdapat sejenis puisi yang menggerakkan nilai keganasan, tetapi puisi jenis ini tidak dapat mempertahankan keindahan halus kata-kata (dan maknanya) yang memberikan sifat seni kepada karya. Aplikasi prinsip estetik kpada unsur proses kognitif yang menghasilkan dua kuasa: pertama oleh peraturan yang digunakan pada unsur puisi sendiri, dan kedua oleh peraturan yang mengawal entiti yang terbentuk oleh unsur tersebut (Polányi, 1967: 36). Setiap puisi mempunyai matlamat estetik. Dalam perkaitan ini, peneliti akan memberi tumpuan pada pertukaran situasi dan mekanisme kognitif yang menghubungkannya dengan kualiti (keseronokan) kesedaran fungsian yang boleh dipercayai. Kesedaran ini ternyata dengan jelas dalam puisi Kemala berjudul Dialog Makrifat dengan Pantun Violet. Sekali pandang, berdasarkan nama judulnya, puisi “Dialog Makrifat” membenarkan pengiriman tanggapan tasawuf, kerana makna ‘makrifat’ ialah “mengenal Allah dan alam (termasuk alam pemikiran manusia) yang kerananya timbul perasaan cinta, takut dan harapan yang merupakan kewajipan utama umat Islam. Akan tetapi, makrifat yang disalurkan oleh Kemala dalam puisi tersebut ialah pemahaman tentang kesan hakikat seperti nasib ke atas makluk yang diberi kepadanya bangsa, perjuangan dan tanggungjawab terhadap hak dan jatidiri manusia yang memiliki bangsa, agama dan kecintaan. Di sinilah kewajaran yang bersatu dalam kesepaduan roh kehidupan manusia yang ditentukan oleh nasib bangsanya sendiri. Apa yang diberikan sebagai rasa oleh penyair dengan istilah makrifat itu ialah nasib bangsa Melayu yang sepatutnya dijunjung ke martabat paling tinggi, setelah orang Melayu mempunyai keagungan negara beraja yang dihormati dan dijulang tetapi layu setelah sekian lama direndam oleh istana (sebagai lambang keagungan bangsa Melayu) dalam air yang dibauri oleh kesangsian yang mengutamakan pengekalan, walaupun Si Tuah berlembut lidah untuk mengentalkan batin perjuangan wira bangsa seperti Tok Janggut dan Maharajalela yang mempertahankan maruah meskipun terpaksa membekukan darah terakhirnya yang dianggap syahid di Kampung Gajah; suatu keranuman ghaib yang penyair sendiri tidak berkemampuan menikmatinya, kecuali merasai dan berterima kasih. Malangnya, cucu-cicit kehanyutan antara “mengenang atau sudah membakar sejarah” roh yang ditimbun-satukan oleh pejuang jati yang tertinggi penyerahannya kepada Ilahi sebagai obor jatidiri sehingga tidak mengenal makna kematian, apatah pula kelahiran semula. Nama sahaja yang ada pada perasaan, pada adanya Al-Qur’an dan doa kepada Tuhan, tetapi sama sekali tidak pada “cinta kasih” yang mengenalkan mereka akan tunjang asal tentang merah darah serta arus kewajipan anak generasi, entah apa nak jadi, masyaallah! Puisi ini adalah puisi keluhan yang menyesak juzuk hati penyair dalam kesangsian pertanyaan yang menghampakan jawapan, kecuali kebingungan dan keseduan. Penulis berani menyalahkan sesiapa sahaja yang membaca puisi ini menganggapnya sebuah karya estetik berbau “tasawuf” atau suatu tarekat mengenal Allah āzzawajālla. Tarekat yang diterajui penyair ialah tarekat pengenalan diri, tarekat yang mengembalikan kesedaran watikah pejuang budi Melayu yang kian disangkal kerelevanannya, lalu apa yang terjadi pada hari ini tidak lain ialah kepulangan semula detik-detik sejarah Jebat menegakkan keadilan. Tarekat ini terucap dengan jelas dalam puisi Kemala berjudul Pantun Violet. Puisi ini cuba menguruskan pendirian jasad manusia antara yang memilih warna indah atau parut yang mengeraskan darah untuk merawat penyakit hati yang ketiadaan waja untuk menghadapi kesaksian yang ditinggalkan sejarah dalam kehidupan yang dihadapi hari ini. Setiap baris ketiga dan keempat dalam setiap stanza yang berikut ini merupakan warna hati pertanyaan penyair, meski jawapannya terlalu malu untuk dijawab olehnya, malahan oleh pembaca yang cekap dalam penerimaan yang tetap menginginkan pertanyaan sebagai asas penyampaian wadah: Stanza 1 Adakah zaman mengenal diri Adakah pahlawan kerisnya berdarah. Stanza 2 Jejak Jebat berulang kembali Paduka Raja merumus titah. Stanza 3 Bulan, bulat violet yang sahih Pendaran sukma direnggut maut. Stanza 4 Mengakrab diri membaca peri Camar ditangkis membibit pautan. Stanza 5 Adakah zaman adakah pahlawan Mengufuk waja mencumbu Tifa. Dunia dianggap oleh penyair sebagai sudah tidak ada peneraju, seperti bahtera kehilangan nakhoda. Dunia dirasakan telah dibauri dengan ketidaktentuan, kegelinciran dan perasaan benci-membenci antara sesama penghuninya. Fenomena bagai telah disongsangi oleh angin dan arah. Manusia bagai telah memilih untuk meninggalkan kelaziman. Puisi ini bersifat pantun dari segi strukturnya, tetapi kandungannya merupakan suatu misi intelektual pada aras pemecahan persoalan yang terlalu abstrak, tajam dan bisu untuk disimpulkan. Istilah merumus titah, direnggut maut, membibit pautan dan mencumbu Tifa membuatkan corak pada lukisan berwarna-warni, bergaris-garis, bersilangan dan bertindan-tindan, lalu lukisan itu dikatakan lukisan abstrak yang sering berfungsi untuk menekunkan tindakan bagi memahami fenomena yang bukannya sosial tetapi berpaksikan roh atau penghidupan manusia dalam pukauan antara sedar dan tidak sedar. Kehidupan ini sesungguhnya suatu persimpangan yang pada zahirnya menempah kehancuran atau kemusnahan. Siapakah yang akan hancur itu nampaknya lebih dekat dengan arah yang kita kongsi bersama atas tunjuk ajar yang tersalah pilih atau tersilap rumus. “Jatuh kasih bulan violet putih” tidak sepatutnya pada “karang dan laut”, kerana di situ cahayanya akan menemukan kematian atau setidak-tidaknya sejenis nazak yang sangat getir. Sintaksis estetik puitik (sinestesia) Istilah sinestesia menyaran penyambungan sensasi yang diperoleh daripada domain deria. Penyambungan gambaran maksud diperoleh daripada beberapa domain deria, manakala penyambungan istilah diperoleh daripada kosa kata beberapa domain derita. Dengan istilah dimaksudkan kata-kata yang dipilih secara maksimum oleh penyair, supaya setiap kata yang terpakai dalam diksi menerima kesan kognitif yang optimum sebagai produk tanggapan yang dikirim penyair ke pendengar (jika puisi itu dideklamasi atau dilagukan) atau pembaca. Setelah kata-kata itu dipilih, ia tidak bisa diganti, ditukar atau diubah bentuknya daripada diksi. Apabila Kemala menggunakan kamusku keindahan sejati dalam sajak berjudul Sebuah Qasidah Akhir Abad 20 (h. 17), tidak boleh mana-mana satu daripada kata-kata tersebut dimungkinkan terganti, diubah atau ditukar. Ini kerana makna kamusku itu telah maksimum tanggapannya, dan apabila maksudnya sudah melahirkan kesan kognitif yang optimum di sisi pembaca, interpretasinya telah terisi dengan konsep dan pengertian yang lengkap. Sama ada pengertian dan konsep penyair itu tercapai sepenuhnya atau tidak oleh pembaca akan bergantung pada pengetahuan pembaca itu sendiri tentang kualiti produk kreativiti puitik dalam konteks yang menakrif apa itu ‘puisi’ dalam budaya dan kesusasteraan Melayu. Paling tidak, pembaca yang mahir dan sering bermain dengan konsep ‘kamus’, tentulah bayangan tafsirannya akan berkisar pada pengertian yang berkaitan dengan “ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Tuhan”, dengan maksud keindahan sejati sebagai unsur “penenang jiwa yang asli”, yakni bukan yang dirasa-rasakan atau difikir-fikirkan, tetapi adalah sesuatu yang benar bagi mendefinisikan hakikat kejadian yang melahirkan kesatuan atau kesepaduan penyair sendiri yang terbekal pada ‘hati’. Manakala dada kekasih membawa konotasi sumber atau pusat tempat berumbinya perasaan yang sangat murni dalam penyatuan yang disumbangkan oleh syarat-syarat metarasa melalui peranan airapitanahangin yang mendefinisi kesempurnaan manusiawi penyair. Sesungguhnya Kemala adalah antara penyair yang mempunyai sensitiviti yang sangat dalam terhadap roh yang menderita di jasad bangsa Melayu. Pengucapan kata-kata yang halus dan indah sebutan bunyi-bunyinya membuatkan puisi beliau dicirikan oleh lagu damai yang memanggil pengembalian yang sudah tersasar ke lembah keliru, agar sahutan demi sahutan diulanginya dengan kuat dalam beberapa banyak babak puisi ciptaannya. Beliau menggunakan keindahan sebagai saluran yang memberikan fungsi bunyi terhadap makna kata, tafsir-tafsiran jauh tentang kekosongan dada anak generasinya ─ semua ini dihanyutkan di atas kolek dan perahu bangsa yang kian hilang akan rahsia lautannya, akan keenakan angin-angin yang bertiup lepas, akan keharuman riak gelombang yang dapat dipelajari dugaannya dan kebebasan sayap bangau di ladang sejarah keagungan keturunannya yang kini terhenti oleh gema-gema musibah yang melanda gerbang teka-teki Alam Melayu. Bangau adalah sejenis burung yang paling tinggi terbangnya dan paling berani merendahkan diri ke belakang kerbau yang berpalit lumpur di bumi nyata. Hanya bangau dapat memahami dan terus menikmati kehidupan bumi nyata, berbanding burung lain yang hanya indah di angkasa, indah dari pandangan jauh tetapi tidak menghampiri bumi nyata, bumi tanah air, bumi tanah yang menumpangkan kehidupan bergenerasi anak peribumi yang ditempatkan oleh Tuhan lebih indah daripada tempat-tempat lain. Inilah antara kilasan hakikat bangsa Melayu yang disayangi penyair untuk menjadi model kehidupan orang Melayu di tanah air sendiri. Tetapi, dalam nada kata-kata yang halus, beliau meragui sama ada sayap bangau masihkah lagi wangi? Istilah qasidah digunakan oleh penyair bukan untuk menghiburkan telinga alam, tetapi untuk menyedarkan anak bangsa yang disabitkannya dengan taraf ‘dungu’ daripada kebijaksanaan yang diberikan oleh Tuhan semata-mata kerana memilih keanggunan yang tidak menguntungkan, sebaliknya ‘menggelombangi pelangi’ di dataran destini yang bagai enggan diselamatkan. Sekiranya tarekat yang dipilih itu ialah ‘cinta Umar’ kepada Tuhan, kesangsian yang ditakuti oleh Kemala barangkali tidak seburuk yang dialami. Pengalaman kebodohan bangsa Melayu menghancurkan alam mereka yang memilih kesumat dari firasat dan tuba dari madu. Kemala telah mengumpul begitu banyak metafora sinestetik, dan melafazkan justifikasi penghakimannya ke atas gambaran tentang pengalaman sejatinya, mahupun menyatukan pengalaman sejarah lampau bangsanya, iaitulah sejarah pengalaman ummah yang kian terjejas segi-segi beraninya, tetapi tidak pernah pun terjejas Di Seri Begawan, sebagaimana yang terungkap sebahagiannya dalam puisi berjudul Di Seri Begawan Bertemulah Pangeran Sarmayuda Dengan Pendeta Za’ba (h. 19-20) yang berikut ini: Di Seri Begawan, bertemulah Pendeta Za’ba dengan Pangeran Sarmayuda waktu Karang panjang dipukul gelombang bak kemilau ombak ditatah Bulan. Hikmah bersulam hakikat, mencari diri mencari makrifat. Di celah helah Dan tingkah, komplot prasangka dan niat jahat. “Peribadi sejati, peribadi singa bangsa, Pangeran singa warisan, kau bukan gurun kontang, bukan taufandan debu, tapi pelangi harmoni, angin nyaman seni kau adalah anugerah Ilahi untuk bumi wangi, untuk Melayu berani. Semuanya terpahat di Rakis menghiris hati.” Jikalah kita di sini mengambil iktibar daripada Gurindam Rakis ini, bangsa Melayu tidak menjadi lumpur dan selut yang ditinggalkan oleh banjir di tanah air sendiri. Intuisi Kemala begitu sensitif meskipun beliau tidak berkemampuan di luar seni untuk menyatakan dengan lebih rinci tentang fenomena lumpur tersebut secara konsistan dan sistematik. Ini kerana bahasa puisi bukan bahasa karangan tetapi bahasa halus yang mengecilkan maklumat luas di permukaan ringkas atas tuntutan nilai seni yang mewarnai maksud seindah mungkin. Penyair membentuk pengalamannya yang membangkitkan metafora sesistematik mungkin. Pendekatan kognitif yang disalurkan dalam karya menganggap kejujuran terelak sebagai fakta biografi, lalu menubuhkan kualiti perseptual puisi atau metafora sebagai suatu perpaduan atau keseluruhan apa yang penyair rasakan semasa menuliskan puisi. Beliau mampu menjelaskan secara konsistan cara intuisi manusia dikaitkan dengan “kejatian” pemindahan sinestetik. Sinestesia seolah-olah berfungsi untuk menajamkan kontradiksi logikal antara kata-kata serasi yang diserahkan kepada metafora untuk menimbulkan kesan tanggapan bertaraf intelektual. Di sinilah terletaknya kualiti mental pada karya seni dengan metafora diserahkan untuk berfungsi membentuk kesan kognitif yang penuh dari permukaan hingga ke dasarnya. Antara kualiti mental yang membuktikan pengalaman sejati ialah yang terungkap pada ujaran metaforik [Racun dan Madu Di pangkal lidah ibu! ] yang berikut ini dalam puisi yang sama: Aku tahu, aku tahu Rakis dan Sejarah Melayu bangkit lagi Aku ahu, aku tahu Racun dan Madu Di pangkal lidah ibu! Kualiti emosi yang berbeza ditanggap hanya apabila kata-kata serasi diserapkan dengan begitu licin sebagaimana ketika pembaca menghadirkan diri jauh daripada kata-kata tersebut terhadap perasaan yang berlebihan, atau kualiti yang bebas daripada ikatan benda, atau kualiti bebas-gestalt. Akibatnya, intuisi menjadi segar supaya metafora sinestetik mencerminkan pengalaman sejati. Kemiskinan terminologi bukanlah sebab yang mendorong penggunaan metafora dalam puisi. Ini kerana, semakin kaya domain deria, semakin berkecenderungan ia “meminjam”, manakala semakin miskin domain deria, semakin tinggi kemungkinan ia “memberi pinjam”. Oleh sebab itu, corak visual lazimnya menghalang pemindahan antarmaksud. Pewarnaan yang ditumpukan dalam puisi boleh menyebabkan maksud visualnya menjadi destinasi dalam sinestesia. Oleh sebab Kemala gemar mewarnakan puisinya dengan kilasan intelektual, kebijaksanaan yang berkualiti akan bermastautin begitu lama dalam sinestesia. Sebagai contoh, metafora mimpi dinihari hampir ke penghujungnya yang mengakhiri puisi yang sama di atas akan memaksimumkan lebih lama persepsinya pada kesan kognitif pembaca yang tentu sekali optimum: Cinta Nabi = Kasih Nabi = Kasih Ilahi Sajak Cinta Nabi (h. 22-23) menyurat banyak pesanan yang terumpah ke atas mereka yang lembut jasadnya, yang liat rohnya, kerana banyak kenangan terhimpun dalam kesatuan yang singgah kepada sesiapa yang dapat merasakan bahawa mukjizat Nabi jika membasahi reroma orang yang ke atasnya dipayungi petunjuk, keamanan, ketenangan dan kebahagiaan akan menyaluti jiwa mereka yang bertaqwa. Taqwa itu bukanlah yang disifatkan sebagai keakraban diri, bukannya ‘takut’ kerana Allah tidak pernah melafazkan kebencian untuk menarik kasih makhluk kepadanya. Konsep taqwa yang mempunyai perkaian dengan kesetiaan menjalankan perintah selalunya beruntung, berjaya, terkadang sampai kepada darjat yang paling tinggi dan aman dalam hidupnya. Kehidupan yang berada di domain metarasa ini diungkapkan oleh Kemala tentang betapa beruntungnya manusia kerana ada ‘cinta Nabi’ dalam kehidupan mereka, sebagaimana yang terungkap maksud ini dalam stanza yang berikut: Merawat riwayat Embun dinihari Kuhimpun butir-butirmu Untuk membasuh luka sukmaku. Selagi ‘cinta nabi’ masih ada di dalam hati manusia bernama ummah itu, selagi itulah mereka hampir kepadanya, kepada nabi kerana kasihnya ke atas umat manusia. Kasih ini telah bermastautin di dalam hati dan jiwa Kemala atas kesengajaannya yang sering memanggil cinta tersebut agar berada di sisinya, lalu akhirnya menjadikan jiwa sebatiannya, terhias dengan ‘metafora putih’, iaitu keindahan rasa yang sentiasa ‘melambai’ dan ‘menggapai’ kesejatian setia minda dan akal budinya dalam kefahaman luar biasa yang sukar diterangkan tetapi dirasakan, dinikmati dan dihiburi. Perasaan istimewa ini telah menakluk kuasa taakulannya bahawa tiada cinta yang sesejati cinta nabi, cinta luar biasa yang ghaib tetapi hadir dalam keterasaan yang tidak dapat dituliskan kedinginan dan kenyamanan magis dalam kesentiasaan cinta yang ‘tak pernah mati-mati’. Biarpun manusia mengakhiri hidupnya dengan kematian, limpahan cinta nabi tetap menular ke dalam jiwa manusia yang masih hidup dan yang akan hidup dalam sifatnya menyelamatkan ummah dalam penyatuan kenabian tanpa sebarang titik hujungnya. Meskipun sajak ini bersifat peribadi, sifat ini diharapkan oleh penyair akan terpindah ke peribadi yang lain. Penyair mahu nikmat yang dirasainya itu turut dirasakan juga oleh orang lain kerana ‘ummah’ itu dianggapnya sebagai suatu kesatuan yang padu atau penyatuan yang jitu, kerana kedinginan nikmat cinta nabi sesungguhnya milik semua orang yang setia kepada ajaran dan falsafah hidup yang digarisinya daripada Tuhan kepada makhluk secara terkongsi. Interpretasi ‘ada wajah menantang wajah’ mendefinisi sifat manusia yang berkecenderungan untuk gemar berbeza, kerana tidak semua keinginan manusia itu berhasil disambut oleh kemampuan, meskipun matlamatnya sama, iaitu untuk menuju ke penghujung yang ‘meringgis nafsu’. Waham ini membenarkan kebimbangan nabi yang berbunyi: “Umatku umpama buih di akhir zaman disepuh bayu lalu menyerpih tak bersatu!” Cinta Nabi = Cinta istimewa = Cinta damai = Cinta yang berbeza = Cinta yang membezakan manusia. Kerana kehadirannya filosofikal, orang yang berjiwa sufi lebih cepat merasakannya, lebih akrab dilamun kesetiaannya. Kesetiaan ini membasahi jiwa yang kering, melunak suara yang pering, menyembuh peribadi yang gering, melembut hati yang garing, menyatukan akaliah yang asing. Itulah antara falsafah yang terkirim pada mesej puisi Cinta Nabi. Pada umumnya Cinta Nabi ingin merapatkan sentuhan kepada pemahaman tentang penghayatan apabila nilai dapat dikuasai oleh seseorang yang mendapat petunjuk atau sandaran nikmat yang sudah memberikan sifat kepada hati, jiwa dan kuasa akaliahnya. Sindrom stilistik Secara paradoks, puisi memberi petunjuk tentang bagaimana kebijaksanaan dapat dilaburkan dalam “enterprise” kesusasteraan, supaya kesan karya puisi mengarah kepada kebaikan manusia, kepada proses menimbulkan kesedaran manusia secara berulang-ulang di dataran yang berbeza. Penulis membayangkan satu kemungkinan untuk puisi Kemala, iaitu bahawa binaan wacananya berlainan daripada kebanyakan puisi ciptaan penyair lain. Pada sekali pandang, kita beranggapan bahawa puisi Kemala tidak mematuhi strurktur konvensi Melayu, iaitu bentuk puitik tradisi yang dimulai dengan kepala, diikuti oleh badan dan akhirnya ekor. Dalam banyak hal, puisi beliau rata-rata bebas. Ikatan tradisi dari sudut penciptaan karya kesusasteraan tidak dipatuhi, sama ada pada aspek keindahan bunyi di akhir baris, mahupun binaan yang menunjukkan suatu pergerakan yang berperaturan, malahan pemisahan bahagian ujaran tidak berakhir dengan tanda noktah di akhir stanza sebagai penyimpul fikiran, atau penamat paragraf yang selalunya membatasi idea dalam susunan yang menyimpul maklumat sokongan dalam perenggan lain sebelumnya atau perenggan (stanza) berikutnya. Kemala cuba membuktikan bahawa dalam puisi yang dipentingkan ialah idea atau maknanya; dan cara makna disambung-satukan haruslah bebas, tetapi tidak sampai melemahkan nilai seni pada pengucapan. Kebanyakan puisi beliau menderetkan makna-makna dalam keindahan yang menyahut keberkesanan kata-kata yang digunakan dalam diksi, supaya puisi boleh sahaja sepanjang mana sekalipun, koherensinya terpelihara dalam satuan mesej yang bernilai kejiwaan dan kebijaksanaan. Sebagai contoh, dalam puisi Sejambak Bunga Karang Tsunami (h. 24), Kemala menghanyutkan kata-kata pada permukaan laut, tetapi menampakkan di tambak-tambaknya kesan kedamparan yang mencuit rasa dan jiwa, seperti ujaran stanza 4 sajak tersebut demikian bunyinya: Sejambak bunga karang Tsunami Ingin kuhadiahkan untuk kekasih yang peka Tentang cinta, hidup dan kemanusiaan Jalan ke syurga hanya dalam kalbu bak purnama Kau kaya dengan raga dan lembar-lembar madah “Bertahun menjadi rakan akrab Tsunamibunga!” Struktur puisi seperti ini menunjukkan sejenis sindrom stilistik yang menemukan kebaharuan yang agak menyimpang daripada gaya puisi konvensional distrukturkan. Tidak sahaja struktur wacananya, kata-kata yang digunakan dalam pembentukan diksi penuh dengan pelambangan yang mengekalkan kehalusan dan keindahan dari segi sebutan mahupun gandingan kata-kata tersebut dalam pengertian yang sensitif kepada ilmu dan kebijaksanaan yang terdakwa mengikut kemampuan pembaca. Makna ujaran jarang sekali disedut daripada makna bahasa biasa, tetapi lambang objek, sifat dan perbuatan tetap berfungsi dalam kehidupan masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai alat pemahaman maklumat. Kepekaan Kemala sangat jelas di sini, sangat luar biasa dan sangat berkesan. Jelmaan bentuk linguistik hanyalah peralatan sedangkan jiwa bentuknya terungkap dengan jelas melalui permainan kata-kata yang menjulang sentiviti puitik pada teks. Gaya ini bukan suatu pelarian, keinginan untuk mengadakan pembaharuan, tetapi sudah menjadi sifat pengucapan yang berkuasa sendiri kerana datangnya daripada jiwa penyair yang mengutamakan kesan daripada keindahan strukturnya. Apa yang terakam sesungguhnya suatu hasilan yang bermakna dalam struktur yang mengikat kesatuan pada aras kesedaran pembaca akhirnya. Gaya yang berbeza ini merupakan apa yang diistilahkan sebagai “sindrom stilistik” yang menyegarkan teori kesusasteraan yang berjuang mempertahankan keindahan yang bersatu dalam binaan “akibat” daripada sumber asalnya “sebab-musabab”. Perbezaan ini harus disanjung sebagai aspek perubahan positif, kerana tugas puisi ialah untuk membentuk kesedaran melalui keindahan yang berpaksi pada seni bahasanya. Kemala tidak gemar menggunakan pengulangan unsur diksi, kecuali dari segi kata yang berfungsi untuk mengeraskan implikasi atau kepentingan yang berguna untuk penegasan yang tidak harus dialpakan. Oleh sebab itu, pengulangan unsur tidak menjadi sifat pengucapan puitik penyair meskipun untuk pengindahan irama diksi. Itulah sebabnya maka puisi Kemala bersifat pemusatan maksud, bukannya hiasan deria telinga yang tidak memberikan apa-apa makna, walaupun indah didengar atau disebut. Keindahan menurut dakwaan derita telinga boleh menurunkan nilai makna atau kesan intelektual apabila kata-kata yang sepatutnya paling tepat dipakai tiba-tiba terganti dengan kata-kata lain demi mempertahankan keindahan irama bagi dijadikan asas pembuktian konsep “puitis” yang mendefinisi keindahan pada ujaran puitik. Sesungguhnya asas ini tidak benar, kerana keindahan puisi terbukti pada kesan makna pada jiwa dan minda pembaca. Penulis bersetuju dengan pegangan Kemala dalam hal ini, kerana kebijaksanaan lebih banyak disumbangkan oleh makna, bukannya bentuk. Pengulangan yang dikatakan berfungsi tadi itu tergambar pada ujaran yang berikut dalam beberapa buah puisi: Penyair kami tak pernah istirah, tak pernah melelapkan mata sepicing pada malammalam tembaga (daripada Teja Taj Mahal, h. 28) Angin semilir Di zikir takdir Mendandani tafsir Berahi puisi Berahi diri (daripada Mundam Berahi, h. 26) Laut tak menghempas Ombak tak beriak Camar tak melayang Mata tak berkerdip Dada tak berdebar Daun tak gugur Dada tak terdepang.... Ghairah padam Meluluh waham. (daripada Dalam Isyarat, h. 21) Pemakaian tak dalam ujaran di atas berfungsi bukan untuk “menidakkan” tetapi “mengiyakan”, kerana konotasi tak dalam semua tindakan dan keputusan manusia berfungsi ‘meluluh(kan) waham’ atau ‘wasangka’ itu. Bolehkah manusia hidup dalam keadaan tak ini? Di sinilah terletaknya kuasa intelek karya yang berpaut pada pemberian makna kepada kehidupan yang dimahukan penyair yang persis “mantap” dalam penjanaan idea atau fikiran demi pembentukan manusia yang benar-benar “insani” dari sudut akaliah mahupun hati budi jatidiri. Terkadang manusia bagai tidak boleh hidup murni dan sempurna dalam keadaan apabila persekitaran kompleksnya tidak dapat memuaskan mereka, lalu penyair menanyakan apakah melalui “ketiadaan pada kesegalaan hidup” barulah mereka benar-benar puas, apakah kepuasan itu hanya dimungkinkan tercapai dalam kehidupan yang kosong dan mudah (yakni tidak kompleks)? Gaya pengucapan ini teranggap dalam kritikan sastera barat sebagai sindrom stilistik, bahawa “ironi negasi” dijadikan oleh penyair sebagai saluran atau teknik penyampaian idea dan kebijaksanaan yang dimaknakan “ya” dalam puisi ironis. Sindrom ini sering juga dinamakan oleh pengkritik sastera sebagai simbolisme intelektual yang bersenyawa dengan makna-makna simbolisme kejiwaan (soulful symbolism). Dalam antologi ini, hampir semua puisi Kemala terkategori kepada jenis yang mengandungi simbolisme kejiwaan (demi pengukuhan seni puitik) yang tergaris pada domain intelektual secara saling memenuhi. Hampir semua puisi Kemala begitu ─ keistimewaan yang menghargai nilai kebaikan (wisdom) dan kebijaksanaan segar pada kata. Persepsi ruang Pada dasarnya puisi adalah seni “masa”. Sungguhpun begitu, kebanyakan imej puisi dikaitkan dengan persepsi ruang. Sebabnya ialah bahawa organisasi ruang penting untuk penubuhan kognisi manusia. Walaupun persepsi ruang bukan fenomena penyatuan, persepsi yang berpusatkan-objek melibatkan pemisahan objek daripada seseorang dan kesedaran biasa orang lain. Justeru, ego dan dunia secara persepsinya terpisah. Kita dapat menyaksikan bagaimana Kemala membayangkan beberapa perubahan yang bersambungan daripada pengalaman yang disaksikannya. Bayangan ini hadir dalam mindanya sebagai “sertaan perseptual”. Melalui orientasi, beberapa objek alam disusun untuk menyatakan implikasinya ke atas kehidupan manusia. Pada kehidupan yang dinyatakan melalui penyusunan pengalaman sebagai data maklumat, penyair membezakan hemisfera melalui pemerosesan maklumat ke atas aktiviti rasional bagi memberikan makna pada sublimasinya, iaitu kualiti yang menimbulkan kebanggaan dan keseronokan (kepuasan). Kebanggaan dan kepuasan ini menakluk dan memenuhi roh manusia, tanpa meninggalkan sebarang tumpangan untuk emosi yang lain, supaya kedua-duanya menjadi berkuasa untuk melepasi kuasa imaginasi untuk menanggung kesemuanya pada waktu yang sama. Pendek kata, kebanggaan dan keseronokan merupakan pengalaman seluruh minda penyair yang terpakai untuk pendedahan tertinggi terhadap realiti (atau kualiti puitik), dan tercapai sepenuhnya selepas pernyataan egoistik identiti seseorang (atau manusia dalam suatu kelompok) yang terkilas itu mengaku berserah kalah di dalam puisi. Sebagai contoh, dalam puisi Sejambak Bunga Karang Tsunami, h. 24), ujaran “aku memeluk muitara berkilau!” (satnza 1) mengingatkan zaman kegemilangan tamadun Islam di Aceh. Akan tetapi, pernyataan egoistiknya dibayangi oleh makna ujaran membawa salam kematian, apabila kau alpa “prasangka dan haloba itu, mainan sia-sia!”. Kealpaan melambangkan nilai egoisme manusia yang menelah kemungkinan kesan rahsia Tuhan yang harus difikiri sebagai injab keselamatan manusia di muka bumi ini. Kesan yang bayangi maknanya pada ujaran yang berikut ini merupakan sebab yang mengakibatkan petaka yang menimpa dan menimbusi kealpaan manusia sebagai balasan Tuhan yang Maha Kuasa: Kau kaya dengan raga dan lembar-lembar madah “Bertahun menjadi rakan akrab Tsunami bunga!” Kesan atau musibah petaka ini menyedarkan penyair tentang “rona ajaibnya mengajakku menyapa pelangi” sebagai terjemahan kepada apa yang terkalam dalam Al-Qur’an sebagai “Bagi Mereka yang Mengetahui”, iaitu simbol amaran yang harus dipelajari oleh manusia, lebih-lebih lagi mereka yang sering alpa dan tidur. Kesedaran inilah mendedahkan realiti yang terungkap dalam ujaran dua baris terakhir yang berikut dalam puisi ini: Bayi manis di pelukan ibunya, mengukir senyum akhir kali “Bu, Tuhan menjemput kita meniti ke syurga!” Bagi si bayi yang tidak berdosa memanglah ke syurga, tetapi bagi mereka yang alpa ke mana pula? Gagasan ini tersembunyi, tetapi itulah kebanggaan dan kepuasan yang terhimpun di permukaan puisi hingga ke dasarnya yang dalam. Falsafah mistik Hanya puisi Tamu Dinihari (h. 25), Teja Taj Mahal (h. 27-29), Mundam Berahi (h. 26) dan Syurga Ke Sembilan (h. 30-32) bersifat mistik. Puisi yang lain-lain tidak begitu. Walaupun sematan nilainya masih berpaksi pada kebesaran dan keizinan Ilahi. Penulis membuat kesimpulan ini kerana falsafah menyangkut tuntutan yang dalam dan halus, dalam hubungan akrab manusia pada aras RUHaniah, sama sekali bukan JASADi. Jasad hanya pakaian dan tempat tinggal ruh yang bertumpang padanya kesedaran sengaja orang yang sudah benar-benar “mengenal Tuhan”. Oleh sebab itu, penulis yang masih jauh daripada mempunyai keupayaan untuk mengenali hakikat dan zat Tuhan akan menghadapi kesukaran untuk menelusuri makna-makna kebenaran yang dihimpun dan disucikan oleh penyair seperti Kemala dalam puisi-puisinya itu. Dalam puisi berjudul Tamu Dinihari, penyair menzahirkan kehadiran halus dalam dirinya untuk membayangkan secara kolektif bahawa kehadiran sehalus dan semurni itu jika ditelitikan pada cara manusia hari ini mengaplikasikan ke dalam hidup mereka bolehlah dikatakan “menyedihkan” berdasarkan pemerhatian Kemala tentang fenomena akaliah dan kejiwaan yang dianggapnya telah disuguli atau dibirati atau langsung diabaikan oleh ummah, seperti lakuan yang termaksud dalam ujaran-ujaran berikut: 1. Aku menyirami air mawar ke bumi, masih tak diterimanya Cinta Hakiki? Sayu dan Rawan Syeikh Jalal al-Din Rumi. “Dunia sudah tua tapi haloba tetap muda!” 2. Dinihari awal Muharram selepas Yassin dan tahajudi rinduku terubat, sampai pula Syeikh Daud al-Fatani. “Ingat kau ayat tujuh pangkalan iman, jangan kau rapuh hatimu umpama Dewan, bulan hitam dari selatan. Falsafah ketauhidan tidaklah sepenuhnya mewarnai mesej puisi ini, kerana tersisip sama di dalamnya aspek kemanusiaan, sebagaimana yang termaksud dalam cicipan ujaran yang berikut: Fikirku “apakah perang ini akan sengit? (dalam peperangan Amerika Iraq pada tahun 2006) Penyair merasakan begitu dihormati atas kedatangan ahli sufi pada waktu malam, sebagai petanda yang mengingatkan beliau akan jalan yang benar itu semestinya disanggupi oleh orang lain; dan tentulah itu menjadi tujuan mengapa beliau menuliskan sajak ini. Tanggapan sufi dirasakan lebih halus lagi dalam puisi Teja Taj Mahal sebagaimana yang dibayangi dalam ujaran yang berikut ini: 1. Percintaan aneh seorang Qutub Maharnya hanya puisipuisi cinta Sejati. Dia bawakan nafas Sahsiah diri kembali Ke hati Nurani. 2. Salutan apa di tubuhmu, pawana Adakah Cindai yang membalut Lambung yang berdarah? Sepuluhribu Pingai Menampungi gucur darah Itu, bagi mewarnai dindingdinding Teja Taj Mahal Rindu. Tiangtiang serinya seperti Raudhah Aman dan nyaman, tafakur dengan baitbait Kasidah dan puisi. Penulis amat tertawan dengan puisi Syurga Ke Sembilan yang memberi nama kepada judul antologi. Persinggahan santapan halus di jiwa penyair menyedarkan penulis tentang kepiluan penyair yang sebaiknya menyembuhkan lukajiwa yang diabaikan layanannya selama ini, sedangkan ia adalah Rūh yang menghidupkan hakikat dan merah darah pada sekurang-kurangnya pengenalan yang mengakrabkan tanggungjawab terhadap fungsi kehidupan. Kemala menyampaikan amanatnya untuk pemulihan jiwa manusia yang telah berbaur dengan kekeringan dan kebiratan pada hati dan dengan kedunguan pada akalnya. Pesanan pada aras ketiga dipikulnya untuk kebaikan manusia lain yang seharusnya akan bersama-samanya di syurga nanti. Sebagai penyampai ketiga kepada ummah, penyair berusaha untuk mengharumi bumi yang dihidupi oleh manusia di dunia ini. Beliau memulakan peranannya sebagai penyair, sebagai pendakwah dan sebagai pengirim salam Ilahi ke wajah dan hati nurani ummat Muhammad yang dikasihaninya setelah menyaksikan pelbagai keburutan, persimpangan, perempangan dan rincingan yang dibina oleh manusia ke atas peterana kehidupan mereka. Kesan kognitif ini terungkap dengan jelas dalam ujaran yang berikut sebagai contoh: Oh kasih, Seribu wajah unik julurmenjulur Anjurmenganjur Nyeri juita batu-batu kapur Nyeri luka permata sebelum hancur Di bawah ternganga cerancang jurang.. Huuuwwiiii...! Kehalusan sufisme yang tergenggam di tangannya mahu dilepaskan seperti burung di angkasa supaya sesiapa yang melihatnya akan sayu dan sedar akan diri sendiri yang tergenang dalam kongkongan yang tidak menghiburkan, apatah lagi menyenang dan memuaskan hati. Layah-layah Ilahi bagai mahu dihirup secara terkongsi dengan ummah yang lain, jika boleh, kesemuanya. Itulah hati dan nurani seorang penyair yang enggan hidup berseorangan, malahan, kalau diizinkan, bersama-sama mengadun kehidupan bahagia yang ditakrif oleh ajaran halus agama Islam kita semua. Sedapat dan semampunya, biarlah landasan Ilahi dibuktikan berkemampuan untuk mewarnai kehidupan bangsa di bawah payungan budaya yang berasaskan ketauhidan Ilahi, iaitu undangan murni sejak leluhur kita di zaman batu lagi. Hanya itu sahaja jalan, atau tarekat, yang dapat menjadikan ummah Muhammad meluruskan minda, menyucikan jiwa dan mengembangkan ketahanan hidup yang bermaruah dan berjatidiri. Pesanan bulan, langit dan matahari ini terungkap dengan jelas dalam beberapa ujaran yang berikut: Aku datang mendakap kasih sejuta tahun Ooo, sinar tajam cantik matahri Membawa simfonia baru Aku datang zonder bayangmu Tamadun dan aksara meramu Kukenalmu selepas terlambat Sejuta tahun. Aku mengenamu anggut batu Batu Gua Niah, syurga kesembilan Di mimpimimpi batu, hasrat batu Dan apiapi bergerisik, memercik, Menyambar menjadi lampu Gemerlap dari batu Di baris bait kata dan aksaramu. Dan undangan kilat ini dari-Mu. Bait-bait di atas semacam bukan dikarang oleh pena di tangan, tetapi oleh hati di kalbu, di jiwa gebu, di gua rindu. Ya, pasti sebegitu, kerana yang terkirim bukan hanya makna-makna tanggungjawab tetapi kedinginan embun yang membasahi malam-malam yang berkualiti dan beradun kecintaan yang dijelajah sumbernya dari “-Mu” itu. Kita tidak seharusnya terlepas pandang, seperti terlepasnya bulan dari pungguk, meskipun ia sangat merindunya. Setiap puisi Kemala mempunyai dasar ilmu dan perjuangan yang kukuh. Kita perhatikan baik-baik Rūh yang mendasari mesej setiap puisinya dalam antologi Syurga Ke Sembilan ini. Penyair tidak berpuisi untuk melepaskan burung dari tangannya ke angkasa lepas semata-mata untuk membebaskannya, tetapi untuk setiap seekor darinya memandang, meneliti dan memeriksa rahsia Tuhan yang adil terhadap hamba-hambanya. Apabila keadilan tidak tersaksikan, maka puisi akan digunakan oleh Kemala untuk menyatakan dengan jelas pada aras tafsiran yang membijakkan agama, budaya dan kehidupan bangsanya. Puisi Kemala rata-rata puisi perjuangan bangsa, agama dan budaya Melayu. Kita perhatikan sahaja, bagamana dalam puisi mistik pun dia melakarkan segala kepincangan dan keburutan yang mewarnai kehidupan bangsa Melayunya, sedangkan bangsa itu, katanya, telah wujud sejak zaman batu lagi. Rintihan perlu diterbangkan ke angkasa agar semua makhluk seperti burung, pokok, embun, tanah, air, api dan angin mengetahuinya, menangisi kemalangan (nasib malang, bukannya kecelakaan) yang menimpa zaman bangsanya yang sepatutnya tidak mempunyai sebab untuk tidak bahagia, untuk terus memanjangkan lara, dan menangisi kesayuan yang menimpa, sehingga hampir mahu padam rindu-rindunya. Harus mengapa terjadinya semua ini kepada anak generasi yang bakal dilahirkan, mahupun yang sedang mencungap dalam kehidupan yang ditatang dengan keresahan, kepayahan dan kelukaan di sanubari. Harus mengapa terjadinya begitu. Fenomena apakah ini yang melanda dada bangsa Melayu, bangsa yang telah menghuni bumi ini sejak berjuta tahun dahulu, sejak zaman batu lagi? Jiwa Kemala tidak tenteram tentang fenomena yang mencederakan nasib anak bangsa yang dicintainya, sehingga kata-katanya seresah begini (Syurga Ke Sembilan): Setelah di sini, puisi terakhirku Bersembunyi..di Kuala Lobang Bulan Pandaikah kau tersenyum atau Meringgis amarah? Dan bertempur Dengan gerigis batu-batu pedang..dan Menatap guyur darah bersememehan Di bantu-batu hampar, sebelum Rimau Putih menyambar? Di Kuala Lobang Angus, Tua Gua mendengus “Ada musuh di pintu! Ada musuh di pintu!” mereka bakal masuk dan terkelebar seribu lelayang rusuh meninggal sarang membawa keluh “Sarangku, sarangku bakal disuluh sarangku, sarangku bakal jatuh!” dan kelelawar berjuntaian, mati diri bertimbun tahiinya dipunggah lagi! Melawan hanya pilihan Untuk hidup,mati terkapar Di syorga yang bukan lagi syorga Kini disadap rakusorang luaran.. Bahagian yang bercetak miring itu mempunyai konotasi yang mendefinisi keluh-kesah penyair terhadap sesuatu yang paling tersayang dan tidak ada tolok banding kemegahannya. “Sesuatu” itu tidak lain adalah milik leluhur paling aGung sejak zaman batu lagi hingga ke akhir zaman nanti. Setakat ini sahaja pun sudah agak dinihari bagi penulis untuk meneruskan bicara akal dan hati. Akal dan hati ini adalah akal dan hati penyair; justeru mata hatinya juga seterang mata hati penyair, walaupun pancaran sinarnya tidak sekilat dan sesyahdu mata hati Penyairnya. Mata hati penyair semestinya menjadi asas penafsiran pengkritik atau peneliti karya ciptaannya. Pekerjaan mengkritik mesti berarah kepada mencerahkan perjuangan dan madah penyair sebagai penerus zaman. Penerusannya melalui karya perlu dibaca dengan tekun dan setiap kecenderungan yang merendahkan kebijaksanaan karya akan menurunkan kesahihannya sebagai peneliti yang berwibawa. Itulah antara falsafah kesusasteraan bagi mereka yang terlibat dalam kritikan puitik. Kesimpulan Demi mengekalkan nilai seni yang pada umumnya dipertahankan dalam semua puisi, Kemala memperkenalkan perubahan baru sebagai sifat yang memberikan kuasa estetik kepada puisi Melayu mutakhir. Perubahan baru itu didapati ketara pada aspek kesejajaran memelihara keindahan yang diukur mengikut keindahan fonologi (saying power) pada akhir baris sesuatu stanza. Keindahan ini terkadang tidak dapat memberikan sifat kepada semua puisi, apabila tuntutan makna, atau penzahiran makna (sensing) diutamakan, sehingga pemilihan kata dipentingkan daripada kesedaran untuk menghadirkan irama fonologi pada pengucapan makna tadi itu. Dalam puisi yang mengutamakan makna dinilai keindahannya pada keserasian kata-kata yang tersusun dalam kolokasi yang memelihara kesatuan maksud pada mesej yang dibina. Akibat pemilihan dan pengutamaan ini, puisi Kemala menjadi sedap didengar dan berkesan makna-makna yang disatukan dalam kebermaknaan (meaningness) yang memberikan nilai intelektualisme pada wacana. Keindahan ini sangat klasik, kerana tidak semua penyair mampu melakukannya. Kelebihan ini merupakan antara beberapa keistimewaan yang membezakan Kemala daripada penyair lain. Puisi Kemala mementingkan rupa yang gemar berahsia. Pada permukaan puisinya terkadang ternampak seolah-olah puisi ciptaannya itu menggambarkan kandungan yang berkemungkinan memanifestasikan nilai mistik Islami jika pembaca melihat hanya nama judulnya. Istilah pengetahuan agama yang berkaitan dengan ilmu tauhid, lagu dan jenis muzik, seperti penggunaan kata makrifat, cinta nabi, syurga, qasidah nampak seperti membayangkan kandungannya yang tentunya berwarna keagamaan, tetapi sebenarnya tidak. Kemala merahsiakan panggilan hatinya di sebalik sebutan istilah tersebut, kerana pengucapan halus tentang perjuangan bangsa, agama dan budaya boleh diperindah dengan kuasa seni pada pengucapan maksud. Kemala bukan penyair mistik pada tanggapan yang dimaksmumkannya dalam mesej kebanyakan puisinya, kecuali beberapa buah untuk membuktikan diri juga boleh melakukan sesuatu untuk mengajak orang lain yang resah kehidupannya agar diobati melalui terapi jiwa dan minda. Beberapa buah puisi dalam antologi Zarah Tanah Kudup (2006) memugar dan mengusapi kebenaran Ilahi yang sangat berkuasa ke atas kebahagiaan ummah dalam kehidupan yang sebaiknya mereka alami. Akan tetapi, puisi-puisi lainnya yang tidak kurang banyaknya secara umum melafazkan perjuangan dirinya yang sering bungkam kesedihan kerana mengenangkan nasib anak bangsa, nasib agama dan budaya yang kian tercalar dan menimbulkan garis-garis parutan yang kekal di kulit-kulit hati generasi kesayangannya. Jeritan batini Kemala yang menggusari ketempangan budaya anak-anak generasi baru yang lebih cenderung untuk memilih hiburan dan keseronokan daripada penimbaan ilmu pengetahuan dirasakan bagai onak yang telah tercucuk ke daging bangsa, ke dada jatidiri bangsa dan ke inti agama bangsa, membuatkannya sering menangisi alam pemikiran dan kebijaksanaan yang semakin meninggal keluar daripada corak budaya leluhur agung pernah dimiliki, dirasai dan dimegahi berzaman-zaman lamanya sebelum ini. Kemala menghormati pembaharuan, pembawaan masuk ilmu ke alam pemikiran Melayu, termasuk perubahan (atau, simfoni) baru secara yang menguntungkan atau yang mencerahkan (setajam sinar cantik matahari), yang mengaktif pembaikan, bukannya yang mengangakan cerancang jurang. Jurang hidup sebaiknya disempitkan supaya perbezaan dengan kehidupan orang lain tidak membelakangkan nama bangsa, keutuhan jatidiri bangsa dan kebahagiaan beragama sebagai pencetus pemikiran baru yang lebih bertenaga dan terkedepan. Melalui bahasa yang indah, Kemala memeta hasrat besarnya agar segala bentuk kehilangan yang dialami oleh bangsa dan budaya Melayu dikembalikan semula ke tempatnya yang betul di tanah air yang sepatutnya orang Melayu menikmatinya sepenuh enak, termasuk kemegahan sejarawi yang memberi kebanggaan kepada kesinambungan warisan budaya yang kaya-raya sejak zaman kemegahan leluhur lagi. Walaupun tidak dinyatakan secara terus-terang, kerana puisi adalah “mundam” kecintaan rahsia, Kemala seperti menzahirkan kesilapan dan kelemahan sedih anak bangsanya itu sebagai bersebab daripada kekosongan agenda pemulihan dan penyatupaduan daripada pihak yang kepada mereka sudah diserahkan oleh bangsa suatu kuasa gergasi politik dengan amanah untuk melaksana dan menyempurnakan tanggungjawab ke’bangsa’an, tetapi gagal melakukannya. Dan ini adalah suatu mala-petaka yang amat dahsyat. Sikap ketakutan dan ketidakpedulian golongan gergasi ini sesungguhnya telah menghina wasiat leluhur yang sudah pun melafazkan tanggungjawab generasi yang terkemudian supaya benar-benar memastikan tercapainya impian Tuah yang mengatakan bahawa Melayu “tak hilang di dunia”. Makna kognitif pada pesanan ini mendasari intelektualisme Melayu jati di dasar puisi Kemala. Sekian, sekadar memenuhkan “Mundam” penyair dengan “Berahi” ke dada cucu-cicit leluhur! Bagi Kemala, tidak pernah lagi “kemungkinan mencipta kemustahilan” pada aras metarasa dalam metabahasa. --@@@@@@@@@@-- Bibliografi: Arbak Othman (2005), Semiotik Dalam Penelitian Puisi. Seri Kembangan: Citra Kurnia Enterprise. Arbak Othman (2008), Semiotik. Seri Kembangan: Citra Kurnia Enterprise. Asmah Haji Omar (1986), Bahasa dan Alam Pemikiran Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka. Beardsley, Monroe C. (1958), Aesthetics: Problems in the Philosophy of Criticism. New York: Harcourt, Brace & World. Blakemore, D. (1995), ‘Relevance theory’. Dlm Verschueren, Ostman, J.O. dan Blommaert (ed.) Handbook of Pragmatics. Amsterdam: John Benjamins. Chadwick, Charles (1971), Symbolism. London: Methuen. Chatman, S (ed) (1971), Literary Style: A Symposium. New York: Oxford University Press. Dasuki Haji Ahmad (1976), Kamus Pengetahuan Islam. Kuala Lumpur: Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia. Dewan Bahasa Dan Pustaka (2004), Kamus Dewan (Edisi Keempat). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka. Halliday, M.A.K. (1978), Languageas Social Semiotics: the social interpretation of language and meaning. London: Edward Arnold. Halliday, M.A.K & Matthiessen, Christian M.I.M. (2002), Construing Experience Through Meaning. London: Continuum. Kemala, (1989) ‘Dian Yang Tak Kunjung Padam” dlm Ahmad Kamal Abdullah, Gejala: Esei Dan Kritikan Puisi Melayu Moden 1955 – 1986. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka. Ortony, Andrew (1979)(ed), Metaphor and Thought. Cambridge: Cambridge University Press.

Disumbangkan pada 4:19:27 AM • Lihat komen (0) / Tambah komen


Ahad, 29 November 2009
REVIEW ANTOLOGI MUSIBAH GEMPA PADANG
BAHASA LANGIT DI UFUK KELABU: MENGENANG MUSIBAH PADANG DARIPADA PERSPEKTIF “ANJAKAN DIKSI” Oleh ARBAK OTHMAN UPM Latar kajian Antara teori sastera yang sesuai untuk mengesan maksud puisi ialah Teori Anjakan Diksi (TAD). Mengikut teori ini, agak mustahil kita bercakap tentang teori ini secara rasional tanpa memperhitungkan kognisi. Kemajuan asas teori ini ialah menempatkan makna pelunjuran sebagai proses kognitif di pusat kerangka. Model TAD membentuk persepsi biasa pembaca ‘ke dalam teks sastera’, seperti puisi, sebaik pembaca membuat pendirian dunia teks yang terbentuk secara mental. Kemampuan imaginatif ini merupakan ‘anjakan diksi’ yang membenarkan pembaca memahami pengucapan diksi yang dilunjurkan secara relatif ke pusat diksi. Dengan kata lain, pembaca dapat melihat secara visual daripada perspektif penyair di dalam dunia-teks, dan membentuk konteks dengan banyaknya melalui penyelesaian pengucapan diksi daripada sudut yang sama. Di pusat diksi yang teranjak itu terhimpun konsep utama bagi digunakan untuk penyataan persepsi dan pembentukan koherensi sepanjang teks sastera. Gagasan teoretis Penyelidikan utama TAD perlulah dibuat dari segi bagaimana pusat diksi dicipta oleh penyair dalam teks, serta bagaimana ia dapat dikenal pasti melalui pemahaman kognitif tentang pola tekstual, dan bagaimana pula ia dianjakkan dan digunakan sebagai sebahagian daripada proses bacaan. Dunia teks sastera mengandungi satu atau lebih bidang diksi yang terbentuk daripada julat keseluruhan pengucapan sama ada daripada kategori perseptual, masa, ruang, hubungan, tekstual atau kategori bersifat komposisi. Kesemuanya disusun di sekitar sifat penyair melalui peranan-entiti dalam teks, walaupun haiwan, tumbuh-tumbhan, unsur lanskap dan objek lain dapat turut membentuk pusat diksi dalam puisi imaginatif. Mengikut teori ini, di pusat diksilah terletaknya idea-idea utama yang membentuk fikiran yang dilunjurkan oleh penyair dalam puisinya. Sebagai contoh, dalam puisi Padang Luka karya Asep Sambodja, dua stanza yang berikut ini membentuk pusat diksi puisi tersebut: aku seperti terbiasa membaca gempa beribu orang mendadak mati berjuta orang harus tabah lagi Pada terluka, namun Ia sentiasa menyimpan rahasia Manakala dalam puisi Trauma Anak Pariaman karya Mokhtar Rahman, ujaran yang berikut ini membentuk pusat diksi puisi yang berkenaan: Gegaran musibah Tabah Minang Rumah adat, rumah gedang tersungkur ranap, terburai bersama induk, ayah, sahabat handai Dia yang menyaksi Lidah tidak perlu mengungkap lagi Linangan air mata menceritakan pasrahnya pada ketentuan Daripada pusat diksi di atas, maksud keseluruhan kedua-dua puisi di atas bertegak pada makna ‘musibah yang dahsyat’, dengan bahagian diksi yang lain berfungsi untuk menjalin idea-idea sokongan pada keutuhan yang sama sehingga kelihatan kesaksiannya terhukum dalam domain kognisi yang berkoherensi pada teras yang dibangunkan di pusat masing-masing diksi. Dalam puisi, setiap jalinan fikiran yang terbentuk di pusat diksi sesungguhnya merupakan produk mental berbentuk kognisi. Melalui puisi, penyair membuktikan kesenghajaannya menyampaikan buah fikiran sama ada dalam konteks masa, ruang, hubungan, tekstual, atau gabungan komposisi. Pusat diksi puisi Gempa Padang karya Muhammad Subhan, setelah dicari daerahnya, telah ditemukan kemungkinan yang kira-kira dapat ditanggung fungsinya oleh ujaran stanza yang berikut: Hari itu, orang-orang berlarian Panik bak menghadapi kiamat Kiamat, benarkah kiamat tiba? Belum, Tuhan masih sayang kepada hambaNya Kiamat kecil, pertanda akan datang kiamat besar Entah kapan waktunya Namun kiamat kecil itu, sudah luar biasa dahsyatnya Konon pula kiamat besar, yang tentunya tak seorang jua Dapat menanggung kegemparannya. Maksud-maksud lain ujaran stanza sebelum dan selepasnya merupakan rincian tambahan untuk mengukuhkan idea utama pada pusat diksi tersebut. Keutuhan puisi ini didukung oleh konteks serangan mala petaka di luar dugaan sesiapa pun. Unsur diksi biasanya melepasi manusia, tempat dan waktu. Dalam puisi bisa saja diwujudkan perkaitan dengan manusia seperti pemangsa tragedi alam teks, iaitu dari segi bagaimana mereka itu dikaitkan secara sosial antara satu sama lain, dan bagaimana setiap pusat persepsi dalam diksi itu menimbulkan anggapan di sisi mereka yang berkenaan. Sebagai contoh, puisi Kemala yang mengandungi ujaran berikut ini dapat berfungsi sebagai jambatan untuk menghubungkan penyair dengan kejadian melalui peranan metafora: I Pagi ini Singgalang tersintak Isyarat telah dihantar Langit Padang-Pariaman menggeletak Ribuan terkubur Iklim dan musim membuak Inikah tanda kiamat kian Mendekat mencekik umat? VI Tiada sapa. Tiada Cinta Ada yang kesasar dan gila Semua keluarga terkambus sepi. Pabila ditanya “Saya takpunya Nama!” katanya Kerusi sang edan diisi. Tamadun zaman kini Atas nama nigrat dan materi. Metafora isyarat telah dihantar Langit berfungsi untuk memberitahu pembaca tentang apa yang dilakukan oleh ummah, sehingga Allah perlu menunjukkan petanda yang mengilas kelemahan manusia, kekurangan manusia, kekajaman manusia dan ketamakan manusia, keadilan yang disisihkan oleh manusia. Meskipun makna-makna ini tidak dilafazkan, tafsirannya terungkap melalui pemakaian kata ‘isyarat’ dan penghantarnya ‘Langit’. Jika penulis tidak tersasar ke luar bicara yang bererti, tafsiran ‘Langit’ itu tidak lain “kuasa tertinggi dan agung”, iaitu Allah. Manakala tanda ‘isyarat’ membayangkan makna “balasan” atau “petanda hukuman”. Memang bukan di sini untuk kita memaknakan puisi, tetapi setiap kata dalam diksi tidak terlepas daripada sangkutan-sangkutan yang bermakna, atau yang jiwa maknanya kian tersentuh, lalu fikiran yang berpusat pada diksi di atas tidak melarikan diri daripada dikenal pasti, kerana kata adalah unsur bahasa yang makna jiwanya tetap berada di badannya (bentuknya yang disebut atau diujarkan). Penyair tidak menggunakan kata-kata yang tidak berguna. Setiap kata dalam diksi bertakhta manikam, penuh dengan isi bertemankan roh. Justeru, idea dalam diksi metaforik yang terpilih di atas menyimpulkan peranan tragedi dalam deskripsi, dalam diri manusia yang memahami kebenaran Ilahi atau pengajaran yang timbul daripada peristiwa. Dalam puisi, penyair menggunakan beberapa penilaian untuk merumus sikap terhadap makna tragedi, atau mala petaka alam yang dia sampaikan. Dalam aktiviti ini, penyair memilih ujaran tertentu serta mengekod kesedihan padanya. Seperti juga pelukis atau pengukir, penyair memuji kepandaian pengukir, lalu kemudiannya menetapkan persepsi baru dalam hirarki kuasa yang jauh lebih rendah daripada kuasa Ilahi. Kesannya ialah bahawa sikap penyair akan terselaras dengan struktur sosial yang dimiliki penyair dengan struktur sosial pihak yang dia pusatkan perhatian dan tumpuan—semua ini disusun melalui hubungan makna dalam diksi. Selain itu, ada juga yang dinamakan diksi tekstual sebagai ukuran yang dapat digunapakai untuk pemahaman puitik. Puisi meletakkan tumpuan pada wacana sebagai bahasa tekstual dengan cara yang berbagai-bagai. Puisi menempatkan tangan dan hati penyair melalui penggunaan kata. Dengan cara ini, puisi meningkatkan statusnya sebagai artifak idea. Oleh sebab puisi menumpukan proses pengeluaran yang sejalan dengan lakuan bacaan, penyair yang menciptanya mengembalikan ideanya pada kata melalui maksud-maksud yang dikehendakinya, sama ada berbentuk interpretasi, konotasi atau penyiratan lambang. Kesan kata-kata didapati berbeza apabila dibaca daripada sudut imaginasi. Warna imaginasi dan kebenaran yang digambarkan mendefinisi aspek yang menentukan kualiti puisi dari sudut komposisi teks, atau apa yang dinamakan ‘kualiti komposisi teks’. Sesetengah pola dalam pemilihan kata, sintaksis dan daftar (register) ditetapkan bagi meletakkan puisi di tempatnya betul. Sebagai contoh, daftar berbentuk kata kerja memetik dan menjadi dalam ujaran memetik muhasabah dan menjadi basah dan pasrah dan daftar kata adjektif merah dalam ujaran dalam singgah sebuah musibah merah yang dipetik daripada puisi Membaca Bahasa Semesta karya Raja Rajeswari Seetha Raman benar-benar berupaya membentuk siratan tentang nilai kesedaran dalam diri manusia yang memahami nilai kejiwaan daripada hukum alam. Daftar merah tentu sekali menggambarkan “darah” yang tumpah ke bumi tragedi. Daripada api tragedi yang menyambar nyawa terkesan sejenis rasa bawah sadar tentang kemungkinan yang sentiasa dimungkinkan. Kemungkinan bala menimpa umat Muhammad tidak terkalis daripada kejadian. Banyak tempat telah mengalami kemungkinan ini, kemungkinan bala yang kerapkali termungkin di negara Timur Tengah kerana tersalah tadbir minyak kekayaan umat Islam. Iran sudah beberapa kali disindir, aceh dibedil gelombang ryeuk, Amerika dihanyutkan air, disambar api yang meranapkan hutan berharga, Jepun dan Korea dilanyak ribut dan taufan—semua ini petanda yang perlu disabari dan dijadikan iktibar kehidupan. Puisi bukan sebidang tikar pemaidani. Polanya bebas dan tersendiri. Ia adalah bumi lecah yang hanya difahami oleh orang yang melacak bumi berlumpur. Terlalu banyak lumpur terpalit di kaki masyarakat. Jejak-jejaknya berpeta-peta, manakala bunyi-bunyinya pula bersajak. Kerana itulah maka puisi tergolong kepada karya sastera yang indah, yang sedap didengar dan enak dibawa ke mimpi. Sebagai dunia mimpi, atau dunia imaginasi, pola kejadiannya bebas dan tersendiri. Tiada siapa yang boleh merencana mimpi; demikian jugalah puisi. Ia datang dengan tiba-tiba, didesak oleh akal manusia untuk memberitahu sesuatu pengalaman dengan cara yang halus dan berseni. Nilai akaliah lazimnya mendominasi makna puisi, walaupun keindahannya terbayang pada bunyi dan struktur diksi. Diksi menjadi pakaian puisi, ia mendefinisi ideologi penyairnya, ciri-ciri dalaman bersifat budaya dan masyarakat. Berdasarkan pakaian dan fesyennya, puisi dapat menarik perhatian ramai orang atas peranannya yang suka membantu, membentuk kebaikan, membaikpulih kelemahan yang membahayakan masyarakat dan sebagainya. Ia juga radio yang memberitahu kita kejadian alam, peristiwa-peristiwa pelik dan luar biasa, termasuk mendidik anak-anak daripada terjerumus ke lembah kehinaan dan kemusnahan jatidiri. Dalam pengucapan musibah gempa bumi pun, kemusnahan jatidiri turut terungkap tentang betapa beratnya tanggungan ke bahu masyarakat: Tamadun zaman kini Atas nama ningrat dan materi. Bantuan lambat tiba Mereka memamah nangka muda. Kemala Dilembar kertas yang kusam kugambar wajah yang merekah berdampingan para politis dengan senyumannya dan kuletakkan wajahku separuh di situ biar menemani wajah separuh itu Yo Sugianto Dalam ujaran dua puisi di atas terungkap sikap segolongan manusia berkuasa yang tidak mempeduli masalah sosial yang melanda rakyat dan negara, meski dalam suasana darurat yang dahsyat kesiksaannya. Supaya orang lain tahu, sebagai penyair, Kemala tetap meneruskan tugasnya bersama-sama mereka yang lain dalam satu angkatan kejiwaan untuk menyampaikan selembar kesedaran, meski kami mengetahui bahawa manusia yang rakus sukar untuk berubah, kecuali apabila kedudukan mereka kian tergugat dalam ranah kuasa yang menjadi kegilaan semua orang. Siapa itu penyair? Penyair adalah pencari yang tidak pernah putus asa. Dia juga seorang peneliti yang melakukan pemetaan ke atas persoalan yang menarik perhatiannya—pada saat ini dia ingin mencadangkan sesuatu yang lebih baik daripada tahap-tahap yang sedia ada. Dia ingin menambah pada kebaikan dan kebijaksanaan yang ada supaya lebih tinggi aras keterasaannya pada hati pembaca, aras afektifnya pada kekukuhan kebaikan agar menjadi lebih kukuh, agar ketegangan menjadi semakin longgar dan menipiskan harapan atau mengetatkan lagi skru kebuntuan, sehingga terkadang sakit hati menebalkan pedihnya, kelemahan menjadi semakin kusut untuk dileraikan, atau luka yang semakin mengeraskan parut-parut sosial, seolah-olah masyarakat ini seperti milik segolongan manusia yang tidak pernah susah, tidak pernah miskin dan tidak pernah putus asa. Itu semua sekiranya dia mahu melakukan penerokaan. Jika ke atas pengalaman yang sudah sekian didatangkan ke depan mata kita, itu bukan lagi pencarian; itu suatu perkongsian yang tidak lepas daripada perkaitan kita dengan kehidupan orang lain dalam masyarakat. Penyair menggunakan imaginasi untuk menemukan bahasa dengan akal pembaca supaya terpancar sebuah kesedaran melalui keindahan puitik di tubuh puisi. Dalam konteks dunia mengalami musibah, minat penyair untuk menegur diambil alih oleh minat untuk berkongsi rasa dan emosi dengan mereka yang dilanda musibah. Perkongsian rasa ini bukan untuk menghapuskan penderitaan pemangsa, tetapi setidak-tidaknya melegakan kesan-kesan psikologi yang tertanggung ke atas mereka, sama-sama merasai simpati terhadap nasib malang yang mereka deritai dan sama-sama mengambil kisah terhadap penderitaan orang lain, sekurang-kurangnya apa yang alami itu menjadi sebahagian daripada beban yang ditanggung secara terkongsi, sama-sama merasai diambil peduli dengan perasaan penuh belas kasihan. Perkongsian rasa dan emosi ini terungkap dalam banyak puisi ciptaan beberapa orang penyair seperti yang diturunkan contoh-contohnya di bawah ini: dukamu duka kami tugu prasasti dalam manik manik nafas hati Budhi Setyawan Kedepan.... Aku berdoa padamu ya Allah Semoga semua warga ranah Minang akan tabah dan tawakal.. Semoga mereka diberi kesabaran, ketabahan dan kegigihan untuk berbenah... Semoga kita semua sadar untuk memperbaiki kesalahan2... Baik kesalahan moralitas, kesalahan fisik pembangunan, kesalahan melupakan karunia Allah dengan tidak menjaganya, dan kesalahan tidak bersyukur dengan karuniaNya... Ratnaputri2 Padang sayang Kami datang ungkapkan kasih sayang Ranah Minang Semangatlah berjuang Bangkitlah sekarang Mimin Di sini, di bumi minang ini Kami mengharapkan ketulusan doa Agar kami dapat kembali bangkit Dan ingatlah kami Di setiap sujud tahajjudmu Ingatlah kami Kami menanti uluran keikhlasan Ingatlah kami wahai saudaraku Dwi Mita Yulianti Mungkin masih ada selaksa harap semoga tak kan padam pelita di hati kami sebab Allah muara segala harap tempat mengadu yang tak bertepi Putri Pratama Bahasa puisi Bahasa puisi bukan bahasa biasa. Ia bahasa istimewa yang luar biasa. Ia bahasa simbolik yang memerlukan kepandaian pembaca menterjemah makna-makna pelambangan, makna-makna imaginasi untuk memahami persoalan yang dihantarkan oleh kata-kata (bahasa). Melalui pelambangan penyair terlebur menjadi ikon yang melalui kata-kata dia memuaskan pembaca memahami masalah dan menggeluti persoalan. Beberapa sajak dalam antologi Musibah Gempa Padang yang dikumpulkan oleh Dato’ Kemala merupakan refleksi penyair Nusantara, terutamanya penyair Malaysia dan Indonesia. Sajak-sajak mereka dibatini oleh kegelisahan, luka jiwa dan gumaman batiniah yang memvisualisasikan kaca mata peribadi, mahupun kaca mata sosial. Bukanlah pekerjaan penyair mencuri kesempatan, tetapi tanggungjawab dalamannya untuk merasai dan menjiwai penderitaan orang lain yang bukan kepalang sakitnya, yang tidak dapat dibanding kekeluan yang ditimpakan pengujian Ilahi. Nasib kita belum tahu lagi. Malang kita belum sampai ke tahap pengalaman mereka. Maka sebagai ummah, apa yang dirasai oleh ummah lain juga menjadi perkaitan kita, tanggungjawab kita untuk menyampaikan simpati serasa, simpati yang tidak mengabaikan petaka orang lain, simpati yang tidak melupakan nikmat dan rahmat yang Tuhan anugerahi kepada kita. Maka itulah tugas penyair apabila mendengar apa juga yang berlaku ke atas ummah yang lain di dunia ini. Perasaan sama sakit ini terungkap dalam beberapa buah puisi karya penyair tertentu di bawah ini: terpaku aku mahu sujud rasa terlambat rela aku menerima apa yang kau surat abdullahjones Tuhan, seluas-luas Padang seluruhnya berdebu tanganku lesu telah berkecai tanah Pariaman hanya tinggal sedulang puisi dengannya kutagih prihatin persaudaraan Hasimah Harun Demikian yang kurasai deritamu deritaku lantaran datuk nenekku sanak saudaraku di bumi Padang yang pasti dimamah gempa dan siapa tak bisa lari Musalmah Mesra Seluruh dunia memandangmu Padang dalam musnah kau masih membawa syiar Tuhan tegak berdiri masjidmu di celah runtuhan menjadi sumber kekuatan buat semua insan Bertongkat di Padang Jarak Tekukur. Yajuk Padang... Inilah ruang antara persinggahan sementara yang menjadi mimpi yang ngeri Tenanglah saudara-saudaraku Sabar saudara-saudaraku Teratakerapung Penyair bukan golongan orang yang mempunyai kuasa, atau golongan yang kaya raya; kami semua miskin tetapi berakal budi, berbudi mulia, berterima kasih pada segala nikmat dan rahmat Ilahi dan merasakan sama-sama sakit apabila rakan-rakan seagama ditimpa musibah, ditimpakan tragedi yang bukan kita mahu, kecuali berdoa agar pengalaman pahit seperti itu tidak berulang lagi, cukup kepada kita sebagai pengajaran dan unsur penyedaran peribadi. Apa yang berlaku di Padang pada 30 September baru-baru ini sesungguhnya merupakan pengalaman tegang yang pahit, dengan sifatnya psikologis dan kelangsungannya sosiobudaya. Peristiwa yang membuatkan kita merenung keras pada aras kesedaran ialah kehilangan jiwa, harta benda dan keterkeduan tanpa kata dan lirik yang tidak dapat diramal interpretasi rundungan psikologisnya. Semua ini merupakan akar-akar dari puisi-puisi dalam Musibah Padang ini. Bayangkanlah kemusnahan yang terlukis dalam puisi Pariaman ciptaan Kardy Syaid: O, masa kanak-kanak yang indah nurul hidayah *2 di tepi kali tempat ayat-ayat Allah menggaung dan adzan ku kumandangkan kini ranahku tiada bentuk, tunduk ke bumi anak kehilangan ayah, anak kehilangan ayah isteri kehilangan suami, suami kehilangan isteri kembali pd Yang Suci. O, rumah tua yang pernah dilalap api kini rebah ke tanah, sujud ke hadiratMu di mana teman-teman masa bocahku? ribuah nyawa terkubur tiba-tiba hewan dan tanaman henti bernafas dalam tahlil dan duka lara. Apa yang kita pasti ialah keyakinan kita bahawa hampir semua penyair memiliki kesedaran yang menyedihi tanggapan dalam ujaran-ujaran indah yang luar biasa kesan-kesan kreatifnya. Proses kreatif yang terstruktur mempunyai domain semantik dan semiotik. Dalam penukilan pengalaman tragis gempa bumi di Padang baru-baru ini penyair turut menyatakan asosiasi, nuansa, citarasa, konotasi dan pengertian sendiri-sendiri dalam gaya yang mendekatkan perasaan penyair dengan perasaan yang dialami oleh penduduk Padang, terutama penduduk desa Pariaman yang membajari pantai yang kadang-kadang nyaman, kekadang secara tiba-tiba ganas tetapi berhikmah. Makna tragedi Pada umumnya puisi merealisasikan makna tragedi dalam nada yang amat ngeri kerana situasi sebenarnya memang ngeri, terkadang berimaginasi tentang penderitaan yang tidak dapat dibayangkan keperitannya, kerana pemangsa hidup dalam serba kekosongan; tiada barang untuk dapat dibeli, tiada sumber untuk makan minum sehari, segalanya ranap— hidup dalam serba kosong. Puisi membuka kemungkinan imaginasi tentang kedahsyatan hukum alam, hukum Allah, sama ada sebagai dugaan untuk menguji kesabaran, atau sebagai pengajaran untuk diinsafi atas kesilapan ummah. Pengujian kesabaran dan keinsafan tergambar dalam sebahagian ujaran puisi Itulah Gertakan-Nya karya Happy Muslim: Apakah dengan ini kau terbangun dari kekafiranmu? Apakah dengan ini kau membagi antara dunia dan akhirat? Apakah dengan ini kau berserah diri? Atau semakin menjadi... Ingatlah itu baru gertakan-Nya saja. Di sebalik kesederhanaannya, ternyata imaginasi puisi dibangunkan cukup berkesan, ditopang oleh kecermatan berbahasa, oleh kekuatan semantik, meski kekuatan rima bagai kian ditinggalkan. Peninggalan kekuatan rima mendapat kesan automatis sebagai akibat makna diutamakan daripada bentuk. Pena penyair sering digerakkan oleh kegelisahan jiwa yang menatari pengalaman rasa dan emosi yang berhujan di jiwa pemangsa tragedi. Hujan rasa ini diungkapkan dengan teliti sehingga pembaca dapat merasakan kedekatan dirinya dengan penderitaan yang dialami oleh pemangsa tragedi. Banyak makna menyentuh kalbu pada peralatan bahasa pengalaman dalam pengucapan kesayuan daripada penyataan sosial dalam perhatian yang disisihkan. Apa pun keadaan, setiap pertanyaan yang tidak berjawab dijawab melalui transformasi rasa dan kesedaran pada aras pembacaan dan penikmatan makna. Pernyataan yang dilafazkan tentang kejadian konkrit tersambar pada minda mujarad di sisi penyair dan pembacaan. Sajak tidak sahaja indah tetapi juga menggegar dan mencengkam persepsi penyair (justeru juga, pembaca) bahawa manusia tidak harus berhelah tetapi menerima hakikat yang diserahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Inilah penyerahan takdir yang harus difahami rahmat di sebaliknya—bukannya rahmat tragedi tetapi hikmah daripada tragedi. Nilai penyerahan diri kepada Ilahi tergambar dengan jelas dalam puisi Hikmah karya Sarah Sarena: keteguhan hati melekat bak laksana pendekar sejati meyakinkan diri bila semua ini adalah ujian dari sang ilahi mengambil hikmah sebagai petuah yang menjadi wasiat sepanjang masa agar lebih peduli masalah kelestarian alam yang dulu sempat terlupa tanpa sengaja Puisi Gelegak 7,6 karya Emmy Marthala turut mengungkapkan nilai kepasrahan sebagai pengobat derita: Mampukah kalian berfikir? Tinggalkan Lembah Uji, kembali, kembali mengawasi hati, amal bererti Wudhuk dinihari menyejuk hati Wajah memancar makna budi cahaya-Mu kupeluk, Cinta Abadi Mokhtar Rahman memaknakan nilai kepasrahan dalam kesaksian yang menyaksikan. Dalam puisi Kisah Pemuda Pariaman beliau mengirim suatu peringatan: Dia yang menyaksi Lidah tidak perlu mengungkap lagi Linangan air mata menceritakan pasrahnya pada ketentuan Dia pewaris Ranah Pariaman Berdiri mencari kekuatan Kata-kata yang digunakan dalam pengucapan kesedihan tragedi tidak ada yang boros. Kelewahan mungkin ada daripada pengulangan maksud yang diulang-ulang. Akan tetapi pengulangan kata mahupun pengucapan pengalaman daripada kejadian-kejadian lampau merupakan unsur pengeras keindahan dan pungutan ini sesungguhnya membuktikan bahawa pengalaman sedih dan penderitaan sosial merupaklan ciri tradisi masyarakat Melayu. Unsur mimesis yang mengulangi kekuatan makna dan tafsiran mencergaskan lagi nilai pengajaran dan iktibar bagi disedari untuk maksud-maksud yang menggerakkan usaha baru dalam mengatasi kehilangan yang berlaku, kekurangan yang menerasi keinsafan serta kelemahan yang memugar daya baru untuk terus mendapat percobaan yang tidak mengalahkan manusia daripada bersedia menerima Qada’ dan Qadar duniawi. Kita telah menyaksikan betapa rumitnya kehidupan. Pengucapan ini sesungguhnya penghantar raksasa yang membelakangkan kepentingan peribadi, tetapi mendepankan kepentingan masyarakat. Rangsangan yang membina ini sesungguhnya menjadi penawar sosial yang mujarab berbanding sikap yang menyalahkan keluhan dan nasib malang. Dalam kehidupan manusia, tidak ada yang menang. Hampir segalanya kekalahan, manakala sedikit kemenangan itu pun sesungguhnya dinimati di celah-celah kekalahan yang diguliti, di sisi kekurangan yang dicetuskan oleh kelemahan manusiawi. Kemenangan dalam kekalahan ini diungguli oleh penyair Lim Swee Tin dalam puisinya Aduh, Prahara Apakah Lagi: Seperti menangisi pesisir utara siat sukmaku perih terlalu maka, sambutlah kasihku Padang ketika kau pun lebih faham tafsir atau terjemahan hikmah tak terjangkaukan salam belasungkawaku sejernih persaudaraan di rimbun ketaqwaan. Kita telah menyaksikan bagaimana mala petaka merumitkan kehidupan tetapi ia tidak merumitkan kebudayaan. Tidak ada dalam budaya Melayu Nusantara kelegaan yang menyebabkan semua orang ketawa dalam kehidupan. Budaya Melayu memang diperkaya dengan sikap penghuni bumi menerima hakikat dan keletetapan Ilahi berkurun-kurun lamanya, sehingga tahap kedewasaannya diukur berdasarkan sejauh mana masyarakat dapat mengatasi masalah kesusahan, penderitaan dan kebahagiaan berduka-lara dalam sahutan kasih dan rindu. Kasih yang tinggi nilainya ialah kasih yang tenggelam dalam penderitaan dan kepayahan hidup sehingga kematangan akan sampai juga ke puncaknya apabila manusia dibijaksanakan oleh keinginan untuk sentiasa berupaya menghadapi rintangan, dugaan Ilahi dan pelbagai macam pancaroba dengan hati yang terbuka. Hakikat inilah antara yang terungkap dalam Musibah Gempa Padang—pengucapan yang mengundang resolusi diri tentang makna-makna musibah, keburukan dan padah. Manusia tidak boleh mengaku lebih daripada kemampuannya, tidak juga pasti tentang bagaimana diri mereka akan terjadi pada suatu masa akan datang. Manusia boleh meramal ikhtiar tetapi tidak boleh meramal kesimpulan. Ramalan ikhtiar dan keinginan mengatasi kelemahan diri menjadi antara asas yang dicadangkan oleh penyair supaya ketetapan Ilahi itu sentiasa dimurnikan dengan kesedaran dan keinsafan diri ke atas sebab-sebab wujudnya kesan-kesan pada diri di alam fana ini. Alam yang sukar kita teka warnanya tetapi mudah kita contengkan keindahannya. Persepsi psikologi dan kognitif harus berkongsi rasa dan maksud secara serentak supaya, melaluinya, kita memahami mengapa musibah sering ditimpakan di tengah-tengah kehidupan manusia. Penyair tidak membawa ubat untuk mengatasi musibah itu, tetapi membawa doa agar kewujudannya tidak berulang, agar generasi akan datang mendapat kebaikan daripada kesan-kesan doa itu jika diizinkan oleh Allah. Ya, kami semua hanyalah pembawa doa dan aksara-aksara keinsafan agar lebih segar di jiwa kita semua yang lemah di domain kesedaran. Bukankah manusia ini makhluk yang lemah, yang kerana itu kita diberikan Allah sumber-sumber untuk hidup, diberikan udara untuk bernafas, diberikan kekayaan bumi untuk diagihkan nikmat keuntungannya kepada semua, diberikan agama untuk kita menjadi baik. Demikianlah antara fungsi penyair dalam masyarakat. Dalam sepoi-sepoi bahasa yang mengalun lembut, makna pengucapan banyak yang menyirat nuansa penderitaan dalam kewujudan yang tidak disangka-sangka. Melalui kosa kata tertentu bersifat keagamaan, penyair cuba memasuki pengalaman religius yang menjelajah sisi-sisi kesedaran dengan perspektif yang mendoakan penghidupan semula, melupai kepahitan yang mereka alami di tengah-tengah kesederhanaan hidup yang perlu sentiasa segar di ruang dan waktu yang dicirikan oleh desakan membuat pemulihan sendiri demi pembaikpulihan masa depan. Dalam senandung ini, penyair mengemukakan fragmen-fragmen yang berbeza daripada domain kehidupan sengsara yang sama. Fragmen tersebut dapat ditunjukkan perbezaan penekanannya pada maksud mesej yang terungkap dalam ujaran-ujaran yang berikut dalam puisi Tentang Ramalan di Sebuah Mata Kuliah Geologi Itu karya Pringadi Abdi Surya: Tapi kisahnya di kelas geologi tinggal kenangan Ia menatap dirinya di ruang kaca Di antara bola kristal yang menyalanyala Dikelilingi roda gila, anjang cinta, dan komedi putar Di sebuah pasar malam yang melupakan Tentang ramalan di kelas geologi itu Fragmen lain bersifat trapis terungkap dalam puisi Padang, Dalam Derita, Sentiasa Ada Bahagia karya Wan Nur-Ilyani Abu Bakar: Padang, bumimu yang digegarkan tentu sekali membuakkan mata air yang bakal menumpahkan air mata bertahun lamanya namun air matamu nanti kudoakan moga kau hamburkan ke sejadah taubatmu agar kau tidak putus asa dan tidak lena akan satu fakta dalam derita sentiasa ada bahagia Unsur trapi juga dibekalkan oleh penyair Singapura Elmi Zulkarnain dalam puisi Titik Gempa, Titik Sengsara melalui fragmentasi yang saling menyahut kesengsaraan akibat kemusnahan dan akad untuk berubah: Pasrah, Namun jangan mengaku kalah Kehidupan baharu bakal bermla Bebekal rahsia hikmah peristiwa... Menyingkap Bencana Padang Pengalaman dianggap suatu kesaksian dan pengakuan eksistensi diri, bahawa dalam proses mengalami kehidupan, manusia harus bersedia mengalami pertembungan nilai, idealisme dan etika yang pelbagai, supaya di celah-celah pertimbangan yang kompleks itu akan terbayang kehidupan baru yang sedang berjalan, beraktiviti dan berlumuran dalam nilai moral yang bersedia menerima perubahan ada diri mahpun keperluan untuk hidup dengan gaya baru setelah mengalami luka mimpi ngeri yang tidak tertanggung oleh kehidupan malam yang sedang enak tidur. Mimpi ngeri yang jatuh di waktu siang dirasakan bagai beban malam yang sukar bernafas dalam gelap. Bayangkanlah, betapa legapnya ruang harapan untuk tembus ke cahaya. Kehidupan dianggap seolah-olah suatu simpangan yang tertutup jalan hujungnya. Walaupun begitu, penyair sentiasa berada di sisi mereka yang terlekat pada kebuntuan, baik harapan mahupun keinginan untuk menyambung nafas sehari hingga esoknya. Harapan ini terlukis dengan jelas dalam puisi Ranah Minang karya penyair Jakarta Fikar W. Eda: Tanah gembur itu memanggil mereka puang Mari siapkan ruang Untuk doa dan kemuliaan Denting jam gadang Terasa lambat di ujung waktu Maghrib tentu syahdu kali ini Daripada sudut yang membahagikan dua kutub atas pelantar yang sama (satu di pangkal dan satu lagi di hujung), penyair Irwan Abu Bakar menyelaraskan perbezaan dalam satu kesamaan: antara penerimaan ketetapan Ilahi dengan pengajaran terhadap kelemahan diri yang Tuhan laknati. Dalam puisi, Luka Gegar Gempa, Derita Duga Laknat, terungkap kesamaan yang berbeza ini: Aku berdiri di Padang lapang luas terbentang di depan Tuhan musibah di Padang jelas terpampang di daulah pinjaman ada derita Tuhan menduga, ada luka Tuhan melaknat ini takdir buat hamba-Nya, dalam rencana-Nya, pasrahlah tuan. Banyak sajak mengisahkan kegelisahan dalam pencapaian hidup yang terhalang di hujung waktu, walaupun sifat hidup ini masih belum boleh dianggap terasing, malahan akrab betul pada masa yang tetap bersedia menyambung kehidupan seterusnya dalam gerak yang masih segar, bukannya penantian yang sedang menunggu hari kiamat. Horizon yang diterokai oleh penyair menyangkut realiti kehidupan yang masih jauh untuk matang. Keadaan yang wujud menjadikan kehidupan masih di ambang muda, di pintu nostalgia yang mengental lama dengan liku-liku hitam dan kelabu. Masalahnya, apakah proses pengentalan melawan liku-liku hitam itu cukup bertenaga untuk mentransformasikan keburukan kepada kesederhanaan minimum yang tertanggung ke atas pemangsa alam? Mahu tidak mahu, kata penyair, arus laut tetap ganas, dan tidak berhenti-henti mengganas meskipun ada kerajaan ikan yang tenang di bawahnya. Ketenangan yang dinikmati ikan-ikan inilah perlu diteroka oleh mereka yang ditimpa mala petaka itu. Ikan tidak mampu menguak keganasan ombak. Mereka mesti terus mencari di mana sahaja ada lompang yang tenang atau yang kurang ngeri di dasar laut seluas mata memandang itu. Mereka tidak boleh putus harapan, meski terkadang terasa mahu memutuskan kehidupan melalui proses kematian. Akan tetapi kematian bukan pilihan manusia yang sedang hidup. Manusia yang hidup di dunia ini tidak berjuang untuk kematian, kecuali kehidupan baru yang mengantarai kematian. Kematian ini masih tetap hidup sifatnya, kerana dalam proses perpindahan entiti kepada entiti yang lain, keinginan untuk masuk syurga tetap ada. Apakah pilihan orang yang ingin masuk syurga? Jawapannya ialah keinginan untuk terus hidup. Kemujaradan semua ini tersimpul dalam puisi Pause musibah negeri karya Jack Efendi. Puisi dipilih kerana liputan persepsi di dalamnya: Rupanya Engkau bercanda lagi Tuhan aku bertanya kepada-Mu Musibah ini menimpa kepada kami, sebagai balasan atau dosa-dosa kami? Atau karena ujian bagi diri kami? Ataukah ini sudah menjadi kehendak-Mu Sebagaimana yang terurai dalam kalam-Mu “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, rang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahahi wa inna ilaihi raaji ‘uun” Kesimpulan Dalam keadaan apa pun kita berada, atau dalam kita sentiasa dianugerahi Tuhan, sama ada sedang menikmati ketenangan alam atau mala petaka, kita harus terus merancang untuk hidup yang lebih lama. Keinginan ini harus bangkit daripada kewujudan alam melalui akal budi dan pertimbangan yang tidak menolak peruntukan Allah kepada kita. Perutusan inilah yang disampaikan oleh kebanyakan penyair dalam antologi Musibah Gempa Padang, terutama untuk penduduk Pariaman. Kemala dan beberapa penyair lain menggunakan sajak sebagai medium pengucapan rasa dan emosi untuk menuangkan kegelisahan luar sangkaan melalui etstetik bahasanya. Antara puisi yang terindah ialah puisi Antara Padang dan Periaman ciptaan Akmal Jiwa. Puisi ini memuatkan kehalusan emosi yang terulit pada kata-kata yang digunakan di permukaan wacana. Kehalusan maknanya, atau seni tafsirannya, tersusun dengan rapi pada aras dalaman semiosis: Kutatap lagi alam Minangkabau yang asli Kutatap alam batini yang ghaib Hijau adalah sakhlat Firdausi Ngarai menjurai Air terjun Lembah Anai Menayang wajah nan permai. Engku, Sutan, Bagindo, Putri dan Dewi Kulipat makrifat dalam dasawarsa Kalau terlipat belati darah kering di muncungnya Bayang Cinta tak sudah, tibakah alamat Langit? Tujuh lembar senja rawan merintih Bibir pautan meluka Digesek piala sumbing kekasih. Sebelum gempa bumi Minangkabau Akmal menjejak tapak meremas pasir pantai kemarau. Pengucapan kegelisahan yang didendangkannya itu bersaksi antara ketidak-pastian dan harapan yang panjang, yang getir untuk kembali menyusuri hutan pantai kehidupan yang lebih puas hingga ke gigir air pulau-pulau yang sentiasa berkocak. Pergolakan air di lautan menyangsikan kemugkinan yang positif buat masa terdekat. Perjuangan kedekatan ini bukan lagi matlamat kehidupan baru, kecuali perlu semula bertatih untuk menjadi remaja meski kemudiannya tidak semudah menjadi dewasa. Harapan yang berbingkaikan kegigihan dalam usaha untuk meneruskan minat dan niat untuk melupakan saat-saat hitam yang dilalui merupakan antara kulit dan isi perjuangan kesemua penyair Nusantara. Simpati dan perkongsian pengalaman menjadi akar semua puisi dalam antologi Musibah Gempa Padang ini. Bibliografi: Ahmad Kamal Abdullah (1993), ‘Puisi Melayu Mutakhir: Langkah Keindahan Dan Kebijaksanaan’ dlm Telaah Sastera Melayu: Himpunan Kertas Kerja Minggu Sastera Malaysia di London 1992. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka. Arbak Othman (2008), Semiotik. Seri Kembangan: Citra Kurnia Enterprise. Cook, G. (1994), Discourse and Literature. Oxford: Oxford University Press. Edwards, D. (1997), Discourse and Cognition. London: Sage. Fauconnier, G. (1997), Mapping in Thought and Language. Cambtidge: Cambridge University Press. Gibbs, R. (1994), The Poetics of Mind: Figurative Thought, Language and Understanding. Cambridge: Cambridge University Press. Ortony, A. (1993) (Ed.), Metaphor and Thought. Cambridge: Cambridge University Press. Stockwell, P. (2002), Cognitive Poetics, An Introduction. London: Routlege. Tsur, R. (1992), Toward a Theory of Cognitive Poetics. Amsterdam: North-Holland. Werth, P. (1999), Text Worlds: Representing Conceptual Space in Discourse. Harlow: Longman.

Disumbangkan pada 4:15:22 AM • Lihat komen (0) / Tambah komen




Mukasurat dari 9


Hakcipta © 2005 eSastera Enterprise • Kemaskini terakhir 9/27/2010 2:24:19 PM • Bilangan pelawat 11153